Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Sejumlah Mahasiswi, Kampus Bentuk Tim Investigasi

- Kamis, 07 Mei 2026 | 16:20 WIB
Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Sejumlah Mahasiswi, Kampus Bentuk Tim Investigasi

Seorang dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari satu mahasiswi. Kasus ini mencuat setelah sejumlah keluhan dari mahasiswa viral di media sosial, mendorong pihak kampus segera membentuk tim investigasi untuk menelusuri kebenaran laporan tersebut.

Dugaan pelecehan itu pertama kali terungkap dari unggahan akun Instagram yang menampilkan aduan mahasiswi. Dalam unggahan tersebut, terlihat tangkapan layar percakapan melalui aplikasi WhatsApp yang memperlihatkan oknum dosen meminta foto vulgar dan melontarkan pertanyaan tidak senonoh kepada para mahasiswi. Aksi itu dinilai meresahkan dan memicu kemarahan di lingkungan kampus.

Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo, Yusuf Aditya Pratama, membenarkan bahwa pihaknya tengah melakukan koordinasi dan pengumpulan data terkait kasus tersebut. Hingga saat ini, ia belum memperoleh angka pasti jumlah korban, namun memastikan bahwa jumlahnya lebih dari satu orang.

“Dari beberapa informasi yang terkait, bisa dipastikan lebih daripada satu. Lebih dari dua? Iya, sepertinya lebih dari dua,” ujarnya, Kamis (7/6/2026).

DEMA bersama sejumlah elemen kampus berencana membentuk tim investigasi khusus guna menindaklanjuti dugaan pelecehan seksual ini. Koordinasi dilakukan dengan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), tim etik dekanat, hingga pusat studi gender.

Sementara itu, Humas UIN Walisongo Semarang, Astri, membenarkan adanya dugaan kasus tersebut. Ia menyebutkan bahwa Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Walisongo saat ini tengah membentuk tim investigasi untuk menelusuri lebih lanjut laporan pelecehan seksual yang menyeret nama dosen tersebut.

“Di sini kan ada pusat studi gender dan anak, mereka buat tim investigasi. Ya masih proses lah sekarang ini,” ujarnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar