Keluarga Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Berdatangan ke RS Polri, Harapkan Kepastian Identifikasi

- Selasa, 28 April 2026 | 20:15 WIB
Keluarga Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Berdatangan ke RS Polri, Harapkan Kepastian Identifikasi

Hingga siang ini, keluarga korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur masih terus berdatangan. Mereka datang dengan harapan harapan yang kadang terasa tipis, tapi tetap dipupuk. Mencari kabar, mencari kepastian, atau sekadar mencari keluarga mereka dalam keadaan selamat.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin malam, 27 April 2026. KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang sedang berhenti di stasiun. Awalnya, kata sejumlah sumber, ada taksi yang tertemper KRL di perlintasan tidak jauh dari stasiun. Akibatnya, KRL itu terpaksa berhenti dan menunggu. Lalu, dari belakang, datanglah KA Argo Bromo Anggrek. Tabrakan pun tak terhindarkan.

Sampai pukul 17.49 WIB kemarin, data korban meninggal tercatat 15 orang. Belum lagi puluhan lainnya luka-luka. Angka yang mungkin masih bisa berubah.

Di Pos DVI RS Polri, Selasa siang, pemandangannya cukup memilukan. Para keluarga berdatangan satu per satu. Ada yang diam, ada yang matanya sembab. Mereka mendaftar, memberi data, dan menunggu. Beberapa bahkan membawa barang-barang pribadi korban baju, dompet, apa saja yang bisa membantu proses identifikasi.

Salah satu yang datang adalah Watasirin, 69 tahun. Ia datang untuk memastikan keponakannya. Sejak kecelakaan itu, keponakannya tak bisa dihubungi. Hilang kontak.

"Ditelepon dari adik-adik kita kan. Bahwa dia ini keponakan ini pulang kerja. Naik kereta," ujarnya di lokasi, suaranya pelan.

Watasirin sudah menyerahkan sejumlah data ke petugas. Katanya, keponakannya itu memang setiap hari naik kereta untuk bekerja.

"Tadi dia KTP, sekarang dia masih minta ijazah kalau ada karena mau melihat sidik jari. Itu saja yang mau dikirim apa belum sekarang itu. Lagi disusulkan," katanya, dengan nada yang sedikit bergetar.

Di sudut lain, tangis sesekali terdengar. Suasana di sana memang berat. Tapi mereka tetap bertahan, berharap ada kejelasan. Entah hasilnya apa, setidaknya mereka ingin tahu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar