Lokomotif KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, ternyata dievakuasi secara terpisah. Bukan barengan sama gerbong. Ada alasannya, dan ini cukup genting.
Kepala Basarnas, Marsdya M Syafii, dalam konferensi pers di Bekasi, Selasa (28/4/2026), menjelaskan situasi di lapangan saat itu tidak sederhana.
"Saya sampaikan pada saat itu memang ada lima korban yang masih dalam kondisi terjepit," ujarnya.
Nah, menurut dia, kalau lokomotif langsung ditarik bersamaan, risikonya cukup besar buat para korban. Bisa-bisa malah memperparah cedera mereka. Jadi, tim di lapangan harus berpikir ekstra hati-hati.
"Harus kita laksanakan kegiatan ekstrikasi sehingga korban bisa kita selamatkan dalam kondisi tidak sampai menimbulkan dampak yang lebih berat lagi," jelas Syafii.
Prosesnya memang tidak instan. Butuh waktu, butuh ketelitian. Korban-korban itu mendapat penanganan khusus prioritas utama ya jelas nyawa manusia. Di sisi lain, evakuasi lokomotif yang tertunda juga bikin antrean perjalanan kereta sempat kacau balau. Tapi ya mau bagaimana lagi, keselamatan nomor satu.
Begitulah, kadang keputusan di lapangan tidak selalu hitam-putih. Ada pertimbangan-pertimbangan yang mungkin tidak kelihatan dari luar.
Artikel Terkait
Direktur Utama Blueray Akui Beri Rp21 Miliar ke Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama
Transjakarta Alihkan Sejumlah Rute Akibat Demo Mahasiswa di Bundaran HI
Piala Dunia 2026 Dibuka Spektakuler di Meksiko, El Niño Rekor Terkonfirmasi, dan Wabah Ebola di Kongo Kian Meluas
Rupiah Tembus Level Psikologis di Bawah Rp18.000 per Dolar AS Usai BI Naikkan Suku Bunga