Pimpinan Pesantren Didorong Terapkan Kepemimpinan Sanad Digital untuk Jaga Kualitas Dakwah di Era Medsos

- Selasa, 28 April 2026 | 11:30 WIB
Pimpinan Pesantren Didorong Terapkan Kepemimpinan Sanad Digital untuk Jaga Kualitas Dakwah di Era Medsos

Pernah nggak sih, Anda lagi scroll TikTok atau YouTube, tiba-tiba nemu ceramah agama yang rasanya adem banget? Enak, ya. Bisa dengerin nasihat dari ustaz favorit kapan aja, di mana aja. Tapi, coba tebak. Dari mana sih ustaz itu belajar? Siapa gurunya? Apakah ilmunya beneran nyambung sampai ke sumber aslinya?

Pertanyaan kayak gitu jarang banget terlintas di kepala. Padahal, dalam tradisi Islam, ada yang namanya sanad. Gampangnya, sanad itu semacam rantai guru-murid yang nyambung terus sampai ke Rasulullah SAW. Mirip silsilah keluarga, tapi ini untuk ilmu. Tanpa sanad, ilmu yang kita serap bisa aja nggak jelas asal-usulnya. Ibaratnya, beli obat tanpa izin edar sembuh sih sembuh, tapi bisa juga bahaya.

Sekarang, kita hidup di era digital. Mau belajar agama? Tinggal buka HP, bisa dapet ratusan sumber dalam sehari. Sayangnya, kemudahan ini kadang bikin kita lupa bertanya: siapa yang menjamin kebenaran ilmu itu? Nah, di sinilah letak persoalannya.

Lalu, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab? Bukan masyarakat awam. Bukan juga para konten kreator. Tapi, para pemimpin pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Merekalah yang punya otoritas, sumber daya, dan jaringan untuk memastikan sanad tetap terjaga di tengah derasnya arus digital.

TikTok Bukan Masalah, Tapi Cara Kita Memakainya
Saya pribadi nggak anti-TikTok. Juga nggak mau musuhin YouTube. Teknologi itu alat, kan? Yang jadi masalah adalah ketika kita, baik sebagai pendakwah maupun pencari ilmu, mulai mengabaikan rantai keilmuan. Coba bayangin, ada santri yang viral karena konten lucu baca kitab, ditonton jutaan orang. Tapi pas ditanya siapa gurunya, jawabnya: "Belajar otodidak, dari YouTube."

Ini bukan cerita fiksi. Ini kejadian nyata. Dan menurut saya, cukup mengkhawatirkan.

Bukan berarti belajar otodidak itu salah. Tapi untuk ilmu agama yang jadi pegangan hidup, kita butuh lebih dari sekadar konten yang menghibur. Kita butuh guru yang membimbing, mengoreksi, dan memberi izin. Ibarat belajar nyetir, Anda bisa nonton video cara nyetir di YouTube, tapi tetap butuh instruktur di samping Anda. Apalagi untuk urusan akhirat.

Di pesantren, proses ini disebut talaqqi belajar langsung dari guru, tatap muka, saling melihat. Ini bukan soal kuno atau modern. Ini soal jaminan kualitas.

Di Mana Letak Kepemimpinan?
Saya coba merumuskan konsep yang saya sebut Kepemimpinan Sanad Digital. Ini bukan sekadar ajakan untuk bermedia sosial yang bertanggung jawab. Lebih dari itu, ini adalah tugas pemimpin lembaga pendidikan Islam. Apa yang harus mereka lakukan?

Pertama, memastikan sanad guru terjaga dan terdokumentasi. Banyak pesantren punya guru hebat, tapi nggak punya catatan sanad yang rapi. Pemimpin harus berani menginisiasi pendataan digital sanad para guru. Bukan cuma disimpan di lemari, tapi bisa diakses dan diverifikasi kapan saja.

Kedua, menetapkan standar sanad minimal bagi para pengajar di lingkungannya. Siapa yang boleh mengajar? Siapa yang boleh jadi narasumber di konten digital pesantren? Ini keputusan kebijakan yang hanya bisa diambil oleh pemimpin.

Ketiga, membangun sistem sertifikasi sanad digital untuk para pendakwah yang bernaung di bawah lembaganya. Bukan untuk mempersulit, tapi untuk memberi jaminan kualitas kepada masyarakat. Pemimpin yang baik nggak cuma ngurus internal pesantren, tapi juga melindungi umat dari kekacauan informasi.

Keempat, menjadi teladan. Seorang pemimpin pesantren yang ingin menerapkan sanad digital harus jadi pengguna pertama. Ia harus bersedia mencantumkan sanad-nya saat tampil di media sosial. Ia harus konsisten mengingatkan pentingnya sanad, bahkan ketika itu nggak populer.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Coba bayangin, ada seorang pimpinan pondok modern yang punya 23 cabang dan ratusan guru. Ia memerintahkan tim IT-nya untuk membuat database sanad seluruh guru. Setiap guru wajib mengisi: dari siapa ia belajar kitab tertentu, kapan, dan apakah sudah mendapat ijazah. Database ini nggak cuma disimpan, tapi dipublikasikan di website resmi pesantren. Masyarakat bisa ngecek: "Apakah ustaz X beneran punya sanad di bidang tafsir?"

Kemudian, pimpinan itu juga menetapkan kebijakan: setiap konten dakwah yang diproduksi pesantren, baik di YouTube, Instagram, atau TikTok, wajib mencantumkan nama guru dan jalur sanad singkat di deskripsi. Ini bukan buat pamer, tapi untuk menunjukkan akuntabilitas. Ia juga ngadain pelatihan buat para ustaz dan santri senior tentang etika berdakwah di era digital, dengan penekanan pada pentingnya menyebutkan sumber ilmu.

Inilah yang kami maksud dengan Kepemimpinan Sanad Digital. Bukan sekadar wacana, tapi tindakan nyata yang diputuskan dan dipimpin oleh seorang pemimpin lembaga.

Dua Hal yang Juga Bisa Kita Lakukan
Sebagai masyarakat awam, kita juga bisa berperan. Meskipun tugas utama ada di pundak pemimpin. Pertama, sebelum membagikan konten dakwah, coba cek dulu: siapa ustaznya? Apakah ia menyebutkan sumber ilmunya? Kalau nggak, jangan buru-buru di-share.

Kedua, jika Anda seorang pendakwah atau pengajar online, biasakan menyebutkan nama guru Anda. Bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga amanah. Soalnya, mengajarkan agama tanpa sanad itu ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Tapi sekali lagi, jangan salah alamat. Masyarakat awam cuma bisa memilih dan mengkritik. Pemimpinlah yang bisa membuat sistem.

Menjaga, Bukan Menghilangkan
Tradisi sanad nggak akan mati. Ia akan beradaptasi. Seperti pohon pisang, induknya boleh mati, tapi tunasnya tumbuh di tempat baru. Akarnya tetap sama. Kita nggak bisa memutar waktu. Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan TikTok daripada kitab kuning. Tapi para pemimpin pesantren bisa memastikan bahwa apa yang mereka tonton tetap terhubung dengan rantai keilmuan yang benar.

Jadi, kalau Anda seorang pimpinan pesantren, kepala madrasah, atau dewan pengasuh, inilah saatnya mengambil sikap. Apakah lembaga Anda sudah punya dokumentasi sanad para guru? Apakah sudah punya kebijakan tentang konten digital yang bersanad? Apakah para pengasuh sendiri sudah menjadi teladan?

Kepemimpinan Sanad Digital bukan tentang teknologi canggih. Ini tentang keberanian mengambil keputusan, konsistensi menerapkan kebijakan, dan keteladanan. Tanpa ketiganya, sanad digital cuma akan jadi slogan kosong.

Wallahu a’lam.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pesantren. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, dan Menjejaki Alam Filsafat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar