Trump Tolak Proposal Iran soal Selat Hormuz karena Tak Bahas Program Nuklir

- Selasa, 28 April 2026 | 10:55 WIB
Trump Tolak Proposal Iran soal Selat Hormuz karena Tak Bahas Program Nuklir

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tidak senang. Bahkan cenderung tidak puas dengan proposal anyar dari Iran. Usulan itu disampaikan lewat mediator Pakistan membahas soal pembukaan Selat Hormuz sekaligus mengakhiri perang. Tapi reaksi Trump? Dingin.

Menurut laporan New York Times, yang mengutip sejumlah sumber paham isi diskusi, Trump sudah mendapat penjelasan soal proposal ini. Itu terjadi dalam rapat di Situation Room Gedung Putih, Senin (27/4) kemarin. Berita ini juga dikutip oleh Anadolu Agency, Selasa (28/4/2026).

Isi proposalnya begini: Iran mau membuka kembali Selat Hormuz. Tapi ada syaratnya. Mereka minta Amerika mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Teheran. Prioritasnya jelas di situ. Namun, menurut sejumlah pejabat AS dan Iran, proposal ini sama sekali tidak menyinggung program nuklir Teheran. Tidak dibahas sama sekali.

Sebelumnya, Iran sudah menolak mentah-mentah tuntutan AS agar mereka menghentikan semua pengayaan uranium. Alasannya? Mereka punya hak berdasarkan hukum internasional. Teheran juga ogah menyerahkan uranium yang sudah diperkaya. Sikap mereka keras.

Nah, soal apa yang bikin Trump tidak puas, belum jelas benar. Tapi satu hal pasti: sejak lama dia ngotot pada dua tuntutan nuklir itu. Tidak ada kompromi, katanya.

Seorang pejabat AS yang minta namanya tidak disebut bilang, menerima proposal Iran sama saja dengan secara terbuka menyangkal kemenangan Trump. Kasar, tapi itulah yang dia katakan.

Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, angkat bicara. Katanya kepada NYT:

"Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers. Kami sudah menjelaskan dengan jelas batasan-batasan kami. Presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia."

Tegas. Dan sepertinya jalan menuju kesepakatan masih panjang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar