Tanggal 24 Maret 2026 lalu, Tagana singkatan dari Taruna Siaga Bencana merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Temanya cukup menggugah: “22 Tahun Mengabdi, Satu Sinergi untuk Ketangguhan Negeri.” Sebuah penegasan bahwa mereka masih jadi garda depan dalam urusan bencana. Solidaritas dan profesionalisme, katanya, tetap jadi pegangan.
Nah, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul ikut memberi selamat. Bukan cuma selamat, dia juga menyampaikan apresiasi. Katanya, dedikasi para kader Tagana di seluruh Indonesia itu luar biasa. Hal ini disampaikannya secara daring, lewat Zoom, dari kantor Kemensos di Jakarta, pada Senin, 27 April lalu.
“Saya sekali lagi, bersama Pak Wamen, ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Terimalah rasa bangga saya, Pak Wamen, dan seluruh jajaran Kementerian Sosial. Mewakili Bapak Presiden, saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi pengabdian yang tak kenal lelah bagi kader-kader Tagana, khususnya ketika bencana terjadi di berbagai tempat di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis hari itu juga.
Acara peringatan ini dihadiri perwakilan Tagana dari 38 provinsi. Sebelum puncak acara, sudah ada berbagai kegiatan lain: apel, santiaji, sampai bakti sosial di sejumlah daerah. Suasana perayaannya memang terasa meriah, tapi tetap diisi dengan hal-hal yang substantif.
Dalam arahannya, Gus Ipul menyampaikan beberapa pesan penting. Yang pertama, soal kesiapsiagaan. Menurut dia, ini nggak bisa ditawar-tawar. Mulai dari sebelum bencana, saat bencana, sampai setelahnya semua harus siap.
Dia menegaskan, Tagana harus jadi yang pertama muncul saat bencana melanda. Nggak boleh ada kata terlambat, apalagi ragu-ragu.
“Pada saat pra bencana, bangun sistem kesiagaan dan mitigasi. Saat bencana, aktivasi sistem yang sudah dipersiapkan untuk penanggulangan bencana alam secara terpadu. Dan pasca bencana, lakukan pemulihan serta penguatan korban. Ini yang dikerjakan teman-teman sekalian,” jelasnya.
Selain itu, Gus Ipul juga menekankan pentingnya profesionalisme. Kapasitas SDM Tagana harus terus ditingkatkan entah itu dalam evakuasi, urusan logistik, dapur umum, hingga dukungan psikososial bagi korban.
“Saudara-saudara hadir paling cepat, bekerja paling keras, dan pulang paling akhir. Itulah prinsip layanan kalian, para anggota Tagana di seluruh Indonesia,” ujarnya dengan nada penuh penghargaan.
Dia juga mengingatkan bahwa bencana nggak bisa ditangani sendirian. Kolaborasi lintas sektor itu penting. Dengan TNI, Polri, BNPB, BPBD, maupun relawan lainnya.
“Tidak ada bencana yang bisa ditangani sendiri. Saya ulang, tidak ada bencana yang ditangani sendiri. Jadi, perkuat kolaborasi lintas sektor. Bencana harus dilawan dengan gotong royong,” sambungnya.
Menurut Gus Ipul, kader Tagana juga harus aktif dalam penguatan data dan sistem. Soalnya, respons bencana nggak cukup cuma cepat. Harus tepat sasaran juga.
“Respon bencana tidak cukup dengan hanya cepat saja. Saya ulang, respon bencana tidak cukup dengan cepat saja. Harus cepat dan tepat,” tegasnya.
Dia pun mendorong pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN biar bantuan yang dikirim benar-benar sampai ke yang berhak. Sekaligus, ini bisa membantu pemutakhiran data di lapangan.
Terakhir, Gus Ipul berharap para kader Tagana nggak cuma memberi bantuan materi. Lebih dari itu, mereka harus bisa menghadirkan empati, kehangatan, dan saling menguatkan.
“Selama ini sudah dijadikan pedoman di lapangan oleh kader-kader Tagana. Tapi dalam kesempatan 22 tahun Tagana ini, saya ingin ini jadi pengingat bagi kita semua. Bahwa integritas adalah modal besar buat kita melayani keluarga yang terdampak,” tutupnya.
Artikel Terkait
Evakuasi Korban Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Stasiun Bekasi Timur Masih Berlangsung
KRL Tertabrak Kereta Jarak Jauh di Bekasi Timur, Gerbong Khusus Wanita Jadi Sasaran
KRL Tertabrak KA Argo Bromo di Bekasi, Penumpang Panik Pecahkan Kaca Gerbong
Polda Metro Jaya Dirikan Crisis Center Usai KRL Tertabrak Kereta Jarak Jauh di Bekasi Timur