Netanyahu dan Hizbullah Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata Lebanon

- Minggu, 26 April 2026 | 22:40 WIB
Netanyahu dan Hizbullah Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata Lebanon

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan tuduhan keras. Katanya, Hizbullah sengaja merusak gencatan senjata di Lebanon. Tapi ya, Hizbullah punya versi lain. Mereka balik menuding Israel lah yang terus-terusan melanggar kesepakatan itu.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah di Telegram, Hizbullah mengeluarkan peringatan. Nadanya tegas, bahkan agak mengancam.

"Kami sangat memperingatkan bahaya ekstrem dari upaya untuk melibatkan otoritas Lebanon dalam perjanjian bilateral yang semata-mata antara Washington dan Netanyahu," tulis mereka, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (26/4/2026). "Di situ, Lebanon tidak memiliki suara atau posisi sama sekali."

Mereka juga menambahkan, perlawanan yang terus dilakukan menargetkan pertemuan musuh Israel di tanah pendudukan, dan membombardir pemukiman di Palestina utara itu semua adalah respons yang sah. Alasannya? Karena Israel sejak hari pertama gencatan senjata diumumkan sudah melanggar.

"Kelanjutan perlawanan yang menargetkan pertemuan musuh Israel di tanah pendudukan kami, dan pengeboman pemukimannya di Palestina utara yang diduduki, adalah tanggapan yang sah," demikian bunyi pernyataan itu. Intinya, Hizbullah mengisyaratkan mereka tidak akan berhenti selama serangan Israel di Lebanon selatan masih terjadi.

Di sisi lain, soal perpanjangan gencatan senjata, Hizbullah punya pandangan sendiri. Mereka bilang, perpanjangan itu seharusnya punya arti yang nyata, bukan sekadar perpanjangan waktu tanpa perubahan.

"Perpanjangan gencatan senjata selama beberapa minggu tambahan, menurut otoritas Lebanon, seharusnya mengarah pada gencatan senjata yang sesungguhnya," jelas mereka. "Di mana musuh akan menghentikan pelanggaran dan serangannya, terutama pemboman dan penghancuran rumah-rumah di selatan."

Tapi apa yang terjadi? Menurut Hizbullah, bukannya berhenti, Israel malah meningkatkan agresi.

"Alih-alih melakukan hal itu, mereka malah meningkatkan agresi dan serangannya," lanjut pernyataan itu. "Ini menegaskan sifat kriminal, pengkhianatan, dan pengabaian terhadap semua hukum dan konvensi internasional."

Sementara itu, Netanyahu dalam rapat kabinet mingguan bicara lain. Ia menuduh Hizbullah telah menghancurkan gencatan senjata.

"Harus dipahami bahwa pelanggaran Hizbullah, pada praktiknya, menghancurkan gencatan senjata," ucapnya.

Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sendiri sebenarnya baru saja diperpanjang tiga minggu pada hari Kamis lalu. Tapi perpanjangan itu tampaknya tidak membuat situasi mereda. Malah, saling tuduh makin keras.

Hizbullah, di sisi lain, menolak tuduhan Israel. Mereka menyebut tuduhan itu "tidak berarti". Serangan yang mereka lakukan, kata mereka, hanyalah pembalasan defensif. Bukan pelanggaran. Mereka juga menyoroti kehadiran Israel di wilayah perbatasan sebagai bukti pelanggaran yang nyata.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar