Jakarta, Minggu sore yang terik di kompleks Parle Senayan. Suasana Halalbihalal Ikatan Alumni Lemhansa berlangsung hangat, namun di balik senyum dan jabat tangan, ada satu pesan serius yang disampaikan Bambang Soesatyo. Ya, pria yang akrab disapa Bamsoet ini yang juga menjabat sebagai Ketua MPR RI ke-15 punya pandangan sendiri soal situasi global yang lagi panas-panasnya.
Menurut dia, dunia sekarang sedang nggak baik-baik saja. Konflik di Timur Tengah, terutama antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, sudah bikin jalur energi dunia kacau. Efeknya? Harga minyak melonjak, ekonomi global goyang, dan yang paling kena dampak adalah negara berkembang kayak Indonesia.
“Dunia saat ini sedang menghadapi situasi yang sangat tidak stabil. Konflik geopolitik telah berkembang menjadi krisis multidimensi yang memengaruhi energi, pangan, ekonomi, hingga keamanan siber. Dampaknya langsung terasa pada harga energi, inflasi, dan daya beli masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).
Bamsoet nggak asal bicara. Ia merujuk pada laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang dirilis April 2026 lalu. Laporan itu bilang, konflik geopolitik sudah bikin harga komoditas naik dan pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Buat Indonesia, ini artinya tekanan besar pada APBN. Subsidi energi bisa membengkak hingga ratusan triliun rupiah gara-gara lonjakan harga minyak dunia. Angka yang bikin siapapun pasti mikir dua kali.
Di tengah situasi rumit begini, Bamsoet punya keyakinan bahwa IKAL Lemhannas bisa jadi salah satu jawaban. Kenapa? Karena anggota-anggotanya bukan kaleng-kaleng. Mereka adalah tokoh lintas sektor dari pemerintahan, militer, pengusaha, sampai akademisi. Semuanya punya pemahaman geopolitik dan wawasan kebangsaan yang kuat. Jadi, mereka bisa jadi jembatan antara kebijakan negara dan implementasi di lapangan.
“Alumni Lemhannas harus menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas nasional. Para alumni Lemhannas memiliki bekal pemikiran strategis dan jaringan luas untuk memastikan setiap kebijakan negara dapat dijalankan secara efektif di tengah dinamika global,” tegas Bamsoet.
Acara Halalbihalal itu sendiri dihadiri oleh Ketua Angkatan KSA XIII, Komjen Pol (P) Nanan Soekarna. Suasananya cair, tapi pesan yang disampaikan cukup berat. Bamsoet yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menekankan pentingnya peran IKAL sebagai strategic community. Bukan cuma kumpul-kumpul, tapi harus mampu memberikan masukan kebijakan yang berbasis analisis mendalam.
“Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan global bisa memicu instabilitas di dalam negeri. Di sinilah peran IKAL Lemhannas sangat penting sebagai perekat bangsa dan penjaga arah kebijakan nasional,” jelasnya.
Di sisi lain, Bamsoet juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan nggak cuma soal geopolitik atau ekonomi. Transformasi digital dan ancaman siber juga makin kompleks. Alumni Lemhannas, menurutnya, harus terus beradaptasi. Kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas analisis berbasis data bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak.
“Ke depan, IKAL Lemhannas harus mampu menjadi pusat pemikiran strategis yang adaptif, responsif, dan solutif. Dengan begitu, IKAL Lemhannas dapat berkontribusi nyata dalam menjaga stabilitas nasional di tengah dunia yang semakin tidak pasti,” pungkas Bamsoet.
Pesan yang jelas, di tengah dunia yang makin kacau, peran para alumni Lemhannas diharapkan bisa jadi penyeimbang. Bukan sekadar teori, tapi aksi nyata.
Artikel Terkait
Empat Libur Nasional dan Dua Cuti Bersama Warnai Bulan Mei 2026
DPRD DKI Hormati Proses Hukum Tersangka Longsor Bantargebang, Soroti Tata Kelola Sampah yang Tak Kunjung Membaik
Warga Nganjuk Tabrakkan Motor ke Perampok Bersajam, Selamat dari Maut Usai Lembur Tengah Malam
Kakak Syok Adiknya Tiba-Tiba Lancar Bahasa Inggris Usai Masuk Sekolah Rakyat Gratis