Pemerintah Sinyalkan Harga BBM Non-Subsidi Berpotensi Naik, BBM Subsidi Tetap Dijaga

- Minggu, 26 April 2026 | 13:45 WIB
Pemerintah Sinyalkan Harga BBM Non-Subsidi Berpotensi Naik, BBM Subsidi Tetap Dijaga

Jakarta Belakangan ini, harga BBM bikin banyak orang mengeluh. Naiknya lumayan bikin kantong jebol. Efeknya terasa banget, dari ibu rumah tangga sampai perusahaan besar, semuanya kena imbasnya.

Di Indonesia, urusan BBM ini nggak sederhana. Ada yang buat bensin, ada yang buat diesel. Terus dibedain lagi berdasarkan nilai oktan atau setana. Belum lagi soal subsidi. Pemerintah punya aturan sendiri buat BBM yang disubsidi, sementara yang non-subsidi bebas mengikuti pasar. Jadi, intinya ada dua kategori besar: BBM yang harganya ditahan negara, dan yang dilepas begitu saja.

Apa bedanya BBM subsidi dan nonsubsidi?

Kalau ngomongin BBM subsidi, ini bahan bakar yang harganya sengaja ditekan pemerintah. Dananya diambil dari APBN, lalu dikasih ke perusahaan distribusi. Karena ada suntikan dana negara, harganya jadi lebih murah dari biaya produksi aslinya.

Nah, siapa yang bisa beli? Nggak semua orang. Hanya kalangan tertentu yang berhak, dan jumlahnya juga dibatasi kuota. Jenisnya ada dua: Pertalite (bensin oktan 90) dan Biosolar (diesel setana 48).

Di sisi lain, BBM non-subsidi ceritanya beda. Pemerintah nggak ikut campur soal harga. Perusahaan penyedia bebas bersaing, asal patuh sama UU Minyak dan Gas Bumi No. 22/2001. Jadi, harga bisa naik turun mengikuti kondisi pasar.

Lalu, BBM nonsubsidi itu apa aja sih?

Umumnya, BBM non-subsidi punya nilai oktan yang lebih tinggi. Ambil contoh dari Pertamina, ada beberapa jenis:

  • Pertamax (RON 92)
  • Pertamax Green 95 (RON 95)
  • Pertamax Turbo (RON 98)
  • Dexlite (CN 51)
  • Pertamina Dex (CN 53)

Selain itu, SPBU swasta juga jual BBM non-subsidi. Misalnya:

  1. Shell: Shell Super, Shell V-Power, Shell V-Power Nitro , Shell V-Power Diesel.
  2. BP-AKR: BP 92, BP Ultimate, BP Diesel.
  3. Vivo: Revvo 90, Revvo 92, Revvo 95.

Pokoknya banyak pilihan, tinggal sesuaikan sama kantong dan kebutuhan.

Soal harga, katanya ikut mekanisme pasar

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, baru-baru ini buka suara. Katanya, pemerintah nggak bisa terus-terusan nahan harga BBM non-subsidi kayak Pertamax Turbo, Dexlite, atau Pertamina Dex. Soalnya, harga ini mengikuti pergerakan pasar global.

Dia jelasin, kebijakan ini berdasarkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang rata-ratanya masih di bawah USD100 per barel. Saat ini, ICP ada di kisaran USD76 per barel.

“Kalau harganya (minyak) turun, ya tidak naik. Tapi kalau harganya seperti ini terus, ya kemungkinan pasti ada penyesuaian,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin, 20 April 2026.

Namun begitu, dia memastikan harga BBM subsidi tetap dijaga. “Karena yang bisa dijamin oleh negara atau pemerintah itu adalah harga yang bersubsidi,” jelasnya. Artinya, buat yang biasa pakai Pertalite atau Biosolar, mungkin masih bisa bernapas lega setidaknya untuk sekarang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar