Pramono Edhie Ungkap Pengalaman Ikut Seleksi Kopassus: Dari Hell Week hingga Interogasi ala Perang Sungguhan

- Minggu, 26 April 2026 | 06:30 WIB
Pramono Edhie Ungkap Pengalaman Ikut Seleksi Kopassus: Dari Hell Week hingga Interogasi ala Perang Sungguhan

JAKARTA – Jadi, bayangin aja, jadi prajurit Kopassus itu nggak main-main. Mereka dikuasai berbagai keahlian mulai dari teknik tempur, baca peta, pionir, patroli, survival, sampai taktik perang gerilya. Nggak cuma itu, mereka juga dilatih di segala macam medan: perkotaan, pegunungan, hutan, rawa-rawa, bahkan laut.

Prajurit yang udah mendedikasikan hidupnya sebagai pasukan komando ini harus rela menghabiskan waktu berbulan-bulan latihan di medan-medan tadi. Nggak heran kalau mereka disebut punya kemampuan tiga matra darat, laut, dan udara. Tapi, di balik semua itu, ada cerita yang bikin merinding.

Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo, misalnya. Dia pernah cerita soal pengalamannya saat ikut seleksi masuk Kopassus. Menurut buku ‘Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan’, Minggu (26/4/2026), setelah lulus pendidikan dari Lembah Tidar tahun 1980, Pramono langsung nyemplung seleksi prajurit Kopassandha cikal bakal Kopassus.

Semuanya dimulai dari Tahap Basis di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Di sana, dia belajar keterampilan dasar: menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat. Lumayan berat, sih, tapi itu baru pemanasan.

Selepas Tahap Basis, dia lanjut ke Tahapan Hutan Gunung di kawasan Citatah, Bandung. Di hutan itu, dia digembleng jadi pendaki serbu, belajar penjejakan, dan bertahan hidup di tengah rimba. Tahap ini ditutup dengan jalan kaki dari Situ Lembang ke Cilacap bawanya amunisi dan peralatan yang beratnya bisa belasan kilogram. Capek? Pasti. Tapi belum selesai.

Setelah sampai di Cilacap, para calon prajurit Kopassus dapat latihan yang lebih sadis: Tahap Rawa Laut. Intinya, mereka belajar cara menyusup lewat rawa dan laut.

"Latihan di Nusakambangan ini merupakan latihan tahap akhir, tak heran bila disebut Hell Week atau Minggu Neraka," kata Pramono Edhie.

Selama seminggu penuh, mereka dikasih materi navigasi laut, survival laut, pelolosan, renang ponco, dan pendaratan pakai perahu karet. Calon prajurit komando harus bisa berenang nyebrang selat dari Cilacap ke Nusakambangan. Nggak pakai bekal, lho. Dilepas pagi hari, dan harus sampai di titik tertentu jam 10 malam. Di tengah jalan, mereka harus ngindarin rintangan alam dan tembakan musuh.

Nah, yang bikin makin serem: kalau ketangkap, mereka bakal diinterogasi dan disiksa mirip kayak di medan perang beneran. Selama tiga hari, mereka nggak boleh bocorin informasi, meskipun digebukin fisiknya.

“Dalam Konvensi Jenewa, semua tawanan perang dilarang untuk disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih menghadapi semua hal terburuk di medan operasi,” tulis Pramono Edhie.

Jadi, nggak heran kalau syarat dan tesnya begitu berat. Nggak sembarang prajurit bisa lolos. Standar fisik aja minimal 61, tes psikologis harus nilai 70, dan kemampuan menembak plus renang tanpa henti sejauh 2.000 meter. Banyak yang gugur di tengah jalan.

“Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando,” tutup Pramono Edhie.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar