Jakarta Ada satu momen menarik di acara Svarna Kartini yang digelar MetroTV. Bukan sekadar seremoni, tapi lebih ke perbincangan yang cukup mengena soal standar kecantikan dan kepercayaan diri. Pembicaranya? Kiki Saputri, komika yang belakangan ini namanya makin sering disebut.
Kiki datang dengan perspektif yang agak berbeda. Ia bukan model atau artis yang sejak awal dianggap "pas" dengan standar kecantikan mainstream. Justru sebaliknya. Ia sadar betul, fisiknya tidak masuk dalam pakem yang biasa kita lihat di layar kaca. Belum lagi tekanan lain: ia perempuan yang berkarier di dunia stand up comedy, yang notabene didominasi laki-laki.
"Tapi ternyata aku punya keberanian bersuara, berpikir, dan menulis. Nah, itu yang menutupi ke insecure an aku tadi. Jadi, daripada kita insecure, mendingan kita bersyukur," ujarnya dalam sesi diskusi, Sabtu, 25 April 2026.
Kalau dipikir-pikir, pernyataan itu cukup sederhana. Tapi justru dari situlah kekuatannya. Kiki seolah ingin bilang: jangan biarkan rasa kurang percaya diri menghentikan langkah. Apalagi kalau alasannya cuma karena takut tidak dianggap cantik.
Ia juga menyoroti fenomena yang cukup umum sekarang perempuan yang baru mau mulai berkarya, tapi sudah keburu ketakutan duluan karena komentar negatif. Menurut Kiki, solusinya satu: beranilah memulai.
"Tipsnya cuma satu: mulai aja dulu. Kita bukan bertugas untuk menyenangkan banyak orang, tapi tugas kita adalah bermanfaat bagi orang banyak. Jangankan netizen, tetangga rumah aja julid, jadi biarin aja," tegasnya.
Nada bicaranya santai, tapi pesannya cukup tajam. Ia seolah mengingatkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengontrol apa kata orang. Tapi kita bisa memilih untuk tetap bergerak maju.
Di sisi lain, Kiki juga menyadari bahwa ada semacam tekanan sosial yang membuat perempuan takut tidak terlihat cantik. Ketakutan ini, menurutnya, justru bisa mematahkan semangat untuk berkarya dan berkembang. Ia mengakui bahwa penerimaan publik terhadap standar kecantikan itu memang ada. Tapi ia menekankan satu hal: jangan jadikan standar itu sebagai alasan untuk tidak berkarya.
Kisah Kiki ini, dengan segala lika-liku rasa percaya dirinya, sebenarnya memperkuat apa yang coba dibangun oleh Svarna Kartini. Acara ini bukan sekadar perayaan, tapi juga ruang pemberdayaan. Tempat di mana perempuan diajak melihat potensi diri secara lebih luas bukan hanya dari fisik, tapi dari suara, pikiran, dan karya yang mereka hasilkan.
Pesan Kiki mungkin terdengar sederhana. Tapi kadang, justru hal-hal sederhana seperti itulah yang paling sulit dilakukan. Berani memulai. Berani tidak peduli dengan standar orang lain. Dan yang paling penting, berani percaya bahwa kita punya sesuatu yang berharga untuk diberikan.
Artikel Terkait
Partisipasi Pemilu Dewan Kota Palestin Menurun Drastis Akibat Perang di Gaza
Kemenhaj Peringatkan Penipuan Haji Tanpa Antre, 13 WNI Dicegah Berangkat
Pendidikan Jarak Jauh untuk Jenjang Menengah Resmi Diluncurkan, Targetkan Penurunan Angka Anak Tidak Sekolah
Gibran Sebut Jusuf Kalla Idola, Pengamat: Sikap Dewasanya Redam Ketegangan Politik