Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, ngomong soal sapi. Bukan sapi sembarangan, tapi soal bibit yang cocok buat iklim Indonesia yang tropis. Ia mendorong pemerintah dan para pelaku usaha untuk serius mengembangkan bibit lokal. Soalnya, selama ini kita kebanyakan impor sapi dari negara subtropis kayak Australia atau Belanda. Nah, menurut Muzani, sapi-sapi itu kurang cocok dengan kondisi alam kita.
Pernyataan itu disampaikan saat ia membuka Kontes Sapi APPSI di Wonosobo, Jawa Tengah, tepatnya pada Sabtu, 25 April 2026. Di acara itu, ia melihat langsung bahwa perbedaan iklim bikin produktivitas sapi impor jadi kurang maksimal. Padahal, biaya yang dikeluarkan nggak murah.
“Kita ini negara tropis. Kalau mendatangkan sapi dari negara subtropis, selain mahal juga tidak sepenuhnya sesuai dengan alam kita,” ujarnya.
Di sisi lain, Muzani punya alternatif. Ia mendorong agar Indonesia mulai melirik negara-negara tropis lain sebagai sumber bibit. Brasil dan India, misalnya. Menurut dia, bibit dari sana lebih adaptif terhadap lingkungan lokal. Lebih tahan, lebih cocok.
“Harapannya kita bisa mendapatkan bibit sapi yang cocok dengan iklim tropis tapi tetap punya produktivitas tinggi,” katanya lagi.
Nggak cuma soal daging, Muzani juga menyoroti produksi susu. Ia membandingkan: sapi perah di Indonesia rata-rata cuma menghasilkan 10–15 liter per hari. Sementara di negara subtropis, bisa tembus 25–30 liter per hari. Selisihnya lumayan besar, dan itu langsung terasa di kantong peternak.
“Selisih ini cukup besar dan berpengaruh pada keekonomian peternak kita,” jelasnya.
Menurut Muzani, kalau bibit sapi yang tepat bisa dikembangkan, dampaknya akan luas. Produksi daging dan susu nasional bisa naik. Ketergantungan pada impor pun perlahan berkurang. Ujung-ujungnya, ketahanan pangan kita makin kuat. Itu yang jadi target jangka panjang.
Ia juga menambahkan, kontes sapi APPSI bukan sekadar ajang pamer. Lebih dari itu, forum ini jadi tempat berbagi ilmu antar peternak. Soal penggemukan, perawatan ternak, semua dibahas di sana. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk mendongkrak kualitas peternakan di daerah.
“Kalau peternak kita maju dan produktif, itu tandanya ekonomi bergerak,” tuturnya.
Artikel Terkait
Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Diperiksa Polisi sebagai Saksi Kasus Penipuan Umrah Hanania Travel
Gubernur Jabar Copot Kepala UPTD Tikomdik Imbas Gangguan Sistem PPDB, Pengelolaan Dialihkan ke Diskominfo
Xi dan Kim Sepakat Perdalam Kerja Sama di Tengah Kekhawatiran Beijing atas Kedekatan Pyongyang dengan Moskow
Ketua Banggar DPR Desak Pemerintah Antisipasi Dampak El Nino Ekstrem dan Tekan Impor BBM