Jakarta Musim semi di Teheran, dan matahari bersinar cukup cerah. Di Jalan Sanaei Ghaznavi, toko-toko buka seperti biasa ada yang jual bahan makanan, perlengkapan rumah tangga, makanan cepat saji, bahkan lapak bunga. Masih ada saja pembeli yang lalu lalang. Tapi jangan salah, pemandangan ini sebenarnya potret sebuah masyarakat yang sudah lama terhantam krisis, hari demi hari cuma bertahan.
Mohammad, cowok muda pakai kaus dan celana jins, membuka tenda di depan toko sepatu punya keluarganya. Buat dia, ini semacam harapan.
"Saya senang berada di sini," katanya waktu kami masuk ke tokonya yang mungil. Rak-rak sepatu olahraga memenuhi ruangan, dari lantai sampai hampir ke langit-langit.
"Begitu banyak orang kehilangan pekerjaan dan tidak bekerja," sambungnya.
Tapi ya itu, pelanggan sepi banget. Ayah Mohammad, Mustafa, cuma bisa mengeluh dengan nada muram. "Dulu kami punya banyak sekali pelanggan." Dengan bangga dia bilang, usaha ini sudah jadi warisan keluarga selama 40 tahun.
Menurut sebuah situs Iran, Asr-e Iran, ada perkiraan tidak resmi yang beredar. Katanya, setidaknya empat juta pekerjaan mungkin sudah lenyap atau terdampak akibat perang dan pemutusan total akses internet oleh pemerintah. Angka yang bikin kepala geleng-geleng.
Di rak-rak toko itu, kotak-kotak dengan merek Barat seperti New Balance dan Clarks kelihatan mencolok. Tapi pas ditanya, ayah dan anak itu cuma jawab santai, "Buatan China." Mohammad nambahin, "Bahkan barang tiruan pun mahal di Iran."
Awalnya saya pikir mereka berharap gencatan senjata yang rapuh ini bisa bertahan. Mungkin negosiasi sama Amerika Serikat berhasil, biar mereka bisa impor barang asli, ngikutin tren sepatu terbaru. Tapi ternyata enggak.
"Kami berharap perang terjadi lagi," kata Mohammad sambil tersenyum tipis.
Ayahnya cuma menatap anaknya yang berusia 27 tahun itu. Penuh arti. "Lihat rambut saya yang sudah beruban, saya lebih mengerti daripada dia."
Mustafa lalu menjelaskan, "Kami hanya lelah hidup dengan kondisi ekonomi yang terus memburuk. Beberapa orang percaya bahwa jika perang terjadi lagi, keadaan pada akhirnya akan membaik secara drastis."
Di luar toko, di sudut jalan, ada seorang perempuan lanjut usia bernama Shahla. Kerudungnya pucat. Dia bawa sepotong roti sambil menjepit daftar belanja dan tumpukan uang. Waktu lihat kami lewat, dia berhenti.
"Sekarang orang harus membayar tiga kali lipat untuk satu roti," keluhnya. Roti putih lembut itu masih terbungkus plastik. "Orang-orang sekarang seperti hidup dalam penderitaan hanya untuk bisa membeli roti."
Shahla lalu memandang ke seberang jalan. Di pusat kota Teheran, jalan itu rindang, jadi semacam batas antara wilayah utara yang makmur dengan toko mewah dan kafe gaya sama wilayah selatan yang lebih miskin dan konservatif. "Orang yang berkecukupan ya tidak masalah, tapi tidak bagi para pekerja yang penghasilannya kecil," jelasnya.
Saya tanya, apa pesannya buat para perunding?
"Hentikan saja, sudah cukup," katanya tegas. "Saya tidak yakin ini akan membawa hal baik bagi kami, karena Trump hanya mengancam orang-orang."
Dia buru-buru melanjutkan belanja. Tak lama, seorang pria muda lewat sambil bawa botol kaca kecil berisi olesan berwarna hijau. "Ini mentega valak," katanya istilah Persia buat bawang liar yang tumbuh di kaki Pegunungan Alborz yang bersalju di utara. "Saya membuatnya sendiri."
Pria 45 tahun ini kerja sebagai arsitek dan pengajar. "Kami hanya berusaha menjalani hidup, membuat sesuatu yang bisa dinikmati," ujarnya tenang. Dia bilang, dia nggak mau terlibat dalam politik yang "sangat rumit" di Iran dan kawasan sekitarnya. Nggak mau juga nebak-nebak apa yang bakal terjadi.
Tapi dia frustrasi. Soalnya, dia bahkan nggak bisa akses situs web buat nerjemahin kata waktu baca buku. Semua gara-gara pemadaman internet yang udah berlangsung lebih dari 50 hari.
Bahkan Menteri Komunikasi Iran, Sattar Hashemi, baru-baru ini minta pembatasan itu dicabut. Katanya, sekitar 10 juta orang terutama dari kelompok berpenghasilan menengah ke bawah bergantung pada koneksi internet buat kerja. Dia nyebutnya sebagai "hak publik".
Pembatasan memang mulai dilonggarkan, pelan-pelan dan terbatas. Tapi pihak keamanan tetap ngotot, aturan itu bakal berlaku selama "ancaman dari musuh" masih ada.
Keamanan di jalanan juga makin ketat. Kami ngerasain sendiri. Petugas keamanan berpakaian sipil dari Basij atau Garda Revolusi Iran sekarang ada di mana-mana. Nggak jauh dari situ, di Lapangan Ferdowsi, beberapa kendaraan lapis baja hitam besar dijaga pria-pria bersenjata berseragam. Kesan yang lebih tegas, gitu. Lapangan itu, seperti jalan ini, dinamai dari seorang penyair Persia yang sangat dihormati.
Saya tanya ke arsitek tadi, perubahan apa yang paling besar pengaruhnya buat hidup dia?
"Kebebasan," jawabnya cepat, tegas. "Kebebasan berpikir dan kebebasan untuk memiliki masa depan."
Di sepanjang jalan, ada sebuah kafe populer. Penuh pelanggan yang antre beli sandwich panggang dan es kopi andalan mereka. Budaya kafe di Teheran ternyata tetap bertahan, bahkan di tengah krisis. Deretan kursi di dekat jendela besar yang terbuka kasih pemandangan langsung ke kehidupan jalanan.
Perbedaannya mencolok banget di kota ini. Perempuan dengan kerudung dan mantel panjang berjalan bareng kelompok anak muda cowok dan cewek yang pakai jeans longgar, tindik, tato. Banyak perempuan, baik muda maupun tua, sekarang udah nggak patuh sama aturan yang mewajibkan mereka berpakaian "sopan" dan nutup kepala. Ini dampak dari gerakan protes "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" beberapa tahun lalu. Protes yang, seperti banyak aksi lainnya, dibubarkan dengan kekerasan.
Aksi-aksi kecil yang protes kenaikan biaya hidup pada akhir tahun 2025 lalu berkembang jadi gelombang protes nasional anti-pemerintah awal tahun ini. Ada klaim ribuan orang tewas akibat penindakan aparat keamanan.
Perang yang baru aja terjadi masih membekas di pikiran Ali. Dia lagi merokok rokok impor Napoli bareng temennya. Adiknya ikut duduk, dengan rambut pendek dan kacamata biru kehijauan yang modis.
"Selama perang itu terjadi menakutkan," kata Ali. "Kami merasa sendirian. Keluarga kami berada di kota lain di Iran dan kami tidak bisa menghubungi mereka."
Masa depan juga terasa menakutkan. Adiknya cerita, dia baru berhenti kerja sebagai koki. Pemilik restoran udah nggak mampu bayar dia lagi.
"Saya suka Presiden Trump dan saya benci Presiden Trump," kata Ali. "Saya suka dia karena dia bilang akan membantu rakyat Iran. Saya benci dia karena dia tidak melakukannya."
Menjelang matahari terbenam, kami pergi ke salah satu alun-alun di dekat sana. Setiap malam, para pendukung pemerintah berkumpul di sini ngikutin ajakan pemimpin mereka buat nunjukin perlawanan dan solidaritas. Di Lapangan Vali-e Asr, banyak bendera Iran berkibar. Latarnya mural besar baru yang menampilkan mantan pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Katanya, dia meninggal akibat serangan udara Israel di jam-jam pertama perang, 28 Februari.
Malam itu, deretan kursi memenuhi area. Orang-orang ngikutin diskusi terbuka tentang berbagai isu. Misalnya: apakah pemimpin mereka yang udah wafat pernah setuju negosiasi sama Amerika.
Seorang perempuan berpakaian hitam dengan kerudung, bendera disampirkan di bahunya, berdiri. Dia tegas-tegas nggak setuju sama moderator di panggung. Moderator sebelumnya bilang, Ayatollah yang wafat itu awalnya nolak pembicaraan sama musuh, tapi kemudian setuju.
"Keadaannya dulu berbeda!" serunya. Dia negasin, pemimpin mereka nggak pernah percaya sama Barat dan tahu para negosiatornya bakal terbukti salah.
Nggak lama, topik berganti. Perempuan lain ambil mikrofon. Dia ngejelasin pentingnya hijab, penutup kepala buat perempuan. Tapi dia bilang, "Namun kita tidak perlu terlalu keras terhadap mereka yang tidak ingin memakainya. Saya pikir ini saatnya untuk persatuan nasional." Pernyataan yang cukup terbuka, menurut saya.
Seorang perempuan muda, juga pakaian hitam dan bawa bendera, mendekati kami. Dalam bahasa Inggris, dia bilang, "Kami hanya akan bernegosiasi dengan Presiden Trump dari posisi yang kuat."
Reyhaneh, 19 tahun, lagi belajar mikrobiologi di Universitas Teheran. Dia megang foto pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei. Saya tanya, kok belum ada yang lihat dia sejak terluka parah dalam serangan yang ngebunuh ayahnya? Reyhaneh menepis pertanyaan saya.
"Sekarang semuanya ada di tangannya, dan juga di masa depan," tegasnya.
Waktu kami ninggalin alun-alun, tiba-tiba ada suara gemuruh. Rombongan para mullah dengan sorban putih dan hitam, pake pakaian kamuflase, bawa senjata di dada. Mereka melintas naik sepeda motor. Momen lain yang bikin malam itu makin terasa... entahlah, mencekam mungkin.
Perjalanan kami balik lagi ke Jalan Sanaei Ghaznavi. Jam 22.30 malam musim semi yang hangat. Kelompok-kelompok kecil anak muda masih berkumpul di dekat restoran cepat saji dan kafe di seberang jalan. Kami lihat Mustafa, penjual sepatu itu, berdiri di trotoar depan tokonya yang terang benderang. Lagi ngobrol sama beberapa temen.
Apakah hari ini banyak pelanggan?
"Tidak banyak," katanya sambil ngangkat bahu. "Kami hanya ingin perang ini segera berakhir."
Koresponden internasional utama BBC, Lyse Doucet, meliput dari Teheran dengan syarat bahwa tidak satu pun materi liputannya digunakan di Layanan Persia BBC. Pembatasan ini berlaku untuk semua organisasi media internasional yang beroperasi di Iran.
Artikel Terkait
Ketua Komisi B DPRD DKI Usul Tarif TransJakarta Naik Jadi Rp5.000
Pria Tak Dikenal Siram Cairan Merah ke Reza Pahlavi saat Acara di Berlin
Politik dan Agama Kembali Beririsan: Trump vs Paus di Tengah Konflik Iran
Polisi Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Dugaan Pelecehan Santri, Sahroni Minta Hukuman Berat