Reza Pahlavi Berkeliling Eropa, Mencari Dukungan di Tengah Ketegangan Iran
Berlin, Kamis (23/4) Reza Pahlavi, mantan putra mahkota Iran yang kini menjadi oposisi utama rezim Khamenei, mendarat di Berlin. Ia datang dengan membawa pesan yang cukup keras untuk para pemimpin Eropa. Jangan ikut campur dalam perang AS-Israel melawan Iran, katanya. Tapi bukan cuma itu. Ia juga mendesak langkah yang lebih tegas: usir duta besar Iran, bantu warga Iran mengakses internet yang diblokir.
Menurut Pahlavi, duduk berunding dengan Teheran sama saja dengan melunak pada rezim. Ia yakin gelombang protes di jalanan akan jadi ujung tombak penggulingan pemerintah yang berkuasa saat ini. "Seluruh narasi gencatan senjata dan negosiasi," ujarnya, "masih didasarkan pada pemikiran bahwa mereka akan berkompromi."
Pahlavi sedang dalam tur Eropa sebelumnya ia sudah singgah di Swedia dan Italia. Tujuannya jelas: mencari dukungan politik dari Eropa dan diaspora Iran. Tapi ia pesimis. "Saya tidak melihat kompromi itu akan terjadi," katanya.
Ia juga mengecam pemimpin baru Iran, yang menggantikan Ali Khamenei yang tewas, sebagai "wajah baru dengan sistem lama." Tuduhannya keras: Iran telah membantai ribuan warga sipil tak bersalah, dan mengancam Eropa dengan rudal jarak jauh. "Tidak ada negosiasi yang akan menyelesaikan itu. Itu sudah ada dalam DNA mereka," tegasnya.
Ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Kini, Reza Pahlavi berulang kali menyatakan siap memimpin transisi jika Republik Islam runtuh dalam perang yang pecah akhir Februari lalu.
Namun begitu, Pahlavi bukan satu-satunya suara diaspora Iran. Kelompok-kelompok ini sering berselisih sengit. Di Berlin, ia disambut pendukung, tapi juga lawan keras. Seorang aktivis bahkan menyiramnya dengan cairan merah.
Dukungan dari Washington pun tak kunjung pasti. Presiden AS Donald Trump belum bertemu resmi dengannya, dan berulang kali meragukan kemampuan Pahlavi memimpin Iran. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga tidak dijadwalkan bertemu, meski beberapa anggota parlemen Jerman akan mengadakan pembicaraan.
Di sisi lain, Pahlavi mengklaim punya basis dukungan di dalam negeri. "Puluhan juta orang Iran meneriakkan nama saya," katanya dalam konferensi pers di Berlin. Ia menambahkan, "Generasi Z di Iran saat ini adalah pendukung terbesar saya." Klaim ini muncul setelah demonstrasi Januari dan aksi promonarki besar-besaran di München dan kota-kota Amerika Utara.
Selat Hormuz Tetap Tertutup, Harga Minyak Melonjak
Sementara itu, harga minyak melonjak pada Kamis (23/4), meski Trump sudah memperpanjang gencatan senjata. Teheran bersikukuh: Selat Hormuz tidak akan dibuka selama blokade angkatan laut AS masih berlaku.
Minyak mentah Brent melonjak 3,5% pada Rabu malam, menembus 100 dolar AS per barel. Sejak perang dimulai 28 Februari, harga sudah naik signifikan sebelumnya mentok di sekitar 70 dolar.
Iran Mulai Petik Pendapatan dari Tol Selat Hormuz
Di tengah blokade, Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengumumkan bahwa bank sentral sudah menerima pendapatan pertama dari pungutan bea masuk kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan, "Pendapatan pertama dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral Iran."
Jalur ini praktis tertutup untuk pelayaran komersial sejak perang dimulai. Penguasaan Iran atas selat itu membuat AS memberlakukan blokade baru pada 13 April. Padahal, selat ini menyumbang seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Akibatnya, harga minyak, gas, dan bahan bakar melonjak.
Para ahli mengkritik sistem tol ini. Robert Huebert, pakar hubungan internasional dari Universitas Calgary, mengatakan kebebasan navigasi adalah "landasan perdagangan maritim internasional." Ia menegaskan, "Jika Iran memungut biaya, Iran akan berhadapan langsung dengan hampir semua negara."
Kondisi Rapuh di Selat Hormuz, Pembicaraan Damai Terancam
Rabu (23/4) lalu, Iran menembaki tiga kapal dan menyita dua kapal internasional di Selat Hormuz. Insiden ini membuat prospek pembicaraan damai AS-Iran yang rencananya digelar di Pakistan minggu ini jadi jalan buntu.
Trump pada Selasa (22/4) mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu bagi negosiasi yang dimediasi Pakistan. Tapi Gedung Putih tidak menyebut batas waktu yang jelas.
Pejabat Iran tidak sepakat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menulis di X: "Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan dengan pelanggaran gencatan senjata yang begitu terang-terangan." Menurutnya, gencatan senjata penuh hanya bisa bertahan jika Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan kepada media pemerintah bahwa Iran belum memutuskan apakah akan bergabung dalam putaran baru pembicaraan. Teheran menuduh AS bertindak dengan niat buruk.
Sebelumnya, Kepala Misi Iran di Mesir, Mojtaba Ferdousi Pour, sudah memberi sinyal tegas: tidak akan ada delegasi yang pergi ke Pakistan hingga Washington mencabut blokade.
Artikel Terkait
PKS Dukung Usulan KPK soal Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol Dua Periode
AS Siapkan Rencana Serangan ke Kemampuan Militer Iran di Selat Hormuz Jika Gencatan Senjata Gagal
Blokade Laut AS di Iran Mulai Tekan Ekonomi, Warga Hidup dari Hari ke Hari
Polisi Tangkap Pria 21 Tahun di Serang yang Diduga Perkosa dan Peras Siswi SD 13 Tahun dengan Ancaman Sebar Video