Solo – Komisi VIII DPR RI menyambangi dapur katering haji di Solo, tepatnya PT Halalan Thoyyiban (PT Hati), pada Kamis, 23 April 2026. Kunjungan kerja ini bukan sekadar formalitas. Ada dorongan serius agar layanan katering haji ke depan menggunakan kontrak jangka panjang.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Abdul Wachid, bicara blak-blakan. Menurut dia, kalau mau pelayanan lebih baik tapi harga lebih murah, ya mau gak mau harus pakai kontrak panjang. Lima sampai sepuluh tahun, katanya. Baik itu untuk pemondokan maupun katering.
“Dalam penyelenggaraan haji ke depan, kita akan lebih mengutamakan pelayanan yang lebih baik dengan harga yang lebih murah. Mau tidak mau dilakukan melalui kontrak jangka panjang 5 sampai 10 tahun, baik itu pemondokan sampai katering,” ujarnya di Solo, Kamis itu.
Skema ini, kata Wachid, sekarang sedang dimatangkan. Regulasi baru tengah digodok bersama pemerintah dan pemangku kepentingan, termasuk Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH). Harapannya, dengan kontrak panjang, pelayanan haji bisa lebih efisien dan terukur. Gak asal jalan aja.
Dia juga cerita soal pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Banyak jemaah yang kurang menikmati makanan. Soalnya, dulu menu katering haji didominasi cita rasa India dan Pakistan. Akibatnya? Makanan banyak yang terbuang. Sayang banget, kan.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada rasa Indonesia yang benar-benar terasa. Ini sangat penting karena dulu banyak makanan tidak dimakan oleh jemaah,” beber Wachid.
Nah, di sisi lain, Owner PT Hati, Puspo Wardoyo, punya cerita sendiri. Tahun ini perusahaannya memasok sekitar 2 juta paket makanan untuk katering haji. Ia mengaku mengutamakan masakan Nusantara. Menu yang disajikan macam-macam: semur, opor ayam, rendang, gulai, tongseng, rica-rica, sampai menu khas Bali.
“Untuk menu haji tahun ini ditingkatkan lagi jika dibanding tahun lalu. Misalnya dengan penambahan telur, daging, untuk menambah proteinnya,” ungkap Puspo.
Ya, semoga aja dengan kontrak panjang dan menu yang makin mendekati selera lidah Indonesia, jemaah haji bisa lebih menikmati setiap suapan. Gak ada lagi cerita makanan bersisa banyak karena rasa yang gak cocok.
Artikel Terkait
Buku Baru Ungkap Soeharto Gunakan Feeling dan Energi Alam dalam Pengambilan Keputusan Politik
Dirgayuza Bantah Tudingan Prabowo Tak Paham Masalah Rakyat, Sebut Presiden Sengaja Menahan Diri
Qodari Sindir Menkeu Purbaya soal Imbauan Beli Saham: Beliau Bukan Trader
Sarwendah Minta Maaf Usai Viral Komentar Soal Nafkah Rp200 Juta, Denny Darko Sebut Itu Keceplosan