Target NZE 2050 Pacu Geliat Investasi Hijau di Indonesia

- Kamis, 23 April 2026 | 13:15 WIB
Target NZE 2050 Pacu Geliat Investasi Hijau di Indonesia

Geliat investasi hijau di Indonesia sedang menanjak. Apa pemicunya? Ternyata, komitmen kuat pemerintah dalam transisi energi dan target nol emisi alias net zero emission (NZE) jadi magnet utamanya. Sinyal ini ditangkap jelas oleh para investor global.

Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyoroti percepatan target NZE dari 2060 menjadi 2050 yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar wacana, tapi sinyal politik yang sangat kuat. Pemerintah pun tak main-main, fokus pada akselerasi program ekonomi hijau sebagai prioritas.

“Hal ini tentunya sejalan dengan keinginan investasi terutama dari luar negeri, karena ini adalah investasi yang juga mempunyai dampak positif terhadap kehidupan, terhadap environment ke depannya,”

Ujarnya dalam konferensi pers realisasi investasi kuartal I-2026, Kamis (23/4) lalu.

Nah, salah satu wujud nyatanya adalah rencana besar mempensiunkan pembangkit listrik tenaga diesel. Bayangkan, kapasitas yang akan digantikan mencapai 13,5 gigawatt. Penggantinya? Pembangkit bertenaga surya dan energi terbarukan lainnya. Langkah ini rupanya sangat cocok dengan selera investor masa kini yang semakin gandrung pada portofolio berkelanjutan. Bagi mereka, investasi semacam ini memberi untung ganda: bernilai ekonomi sekaligus berdampak baik bagi lingkungan.

Dan hasilnya mulai kelihatan. Proyek-proyek energi terbarukan perlahan tapi pasti mulai menarik realisasi investasi yang konkret. Ambil contoh, ada investasi panas bumi dari Jepang senilai sekitar US$900 juta di Aceh. Proyek ini sudah mencapai financial closing dan bahkan konstruksinya sudah dimulai. Ini bukan angka main-main.

Rosan menilai, kunci peningkatan ini ada pada keselarasan. Program pemerintah ternyata pas dengan appetite atau selera investor. Ditambah lagi stabilitas politik dan ekonomi, jadilah Indonesia makin menarik di mata dunia.

“Program-program yang ada ini sejalan dengan appetite dari investasi mereka. Nah ini juga yang membuat mereka untuk berinvestasinya makin meningkat,”

katanya menegaskan.

Di sisi lain, pemerintah juga punya jurus lain: insentif. Namun begitu, pendekatannya kini lebih selektif. Berbeda dengan era hilirisasi nikel yang sejak awal diguyur insentif besar, untuk sektor hijau ini pemberiannya akan lebih hati-hati. Prioritasnya untuk investasi yang dampaknya luas, seperti menciptakan banyak lapangan kerja atau kontribusi signifikan pada energi bersih. Meski selektif, untuk sektor energi terbarukan, dukungan fiskal tetap akan dibuka agar momentum investasi hijau ini tidak kehilangan gas.

Lalu, bagaimana performa investasi secara keseluruhan? Pada kuartal pertama 2026, realisasi investasi Indonesia menembus Rp498,8 triliun. Angka ini mencakup sekitar 24,4% dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun. Rinciannya, investasi asing (PMA) menyumbang Rp250 triliun, tumbuh 8,5% dibanding tahun sebelumnya. Sementara investasi dalam negeri (PMDN) ada di angka Rp248,8 triliun, tumbuh 6%. Sektor hilirisasi masih menjadi andalan, menyumbang Rp147,5 triliun atau hampir 30% dari total realisasi.

Jadi, ceritanya lebih dari sekadar angka. Ada pergeseran selera, keselarasan kebijakan, dan langkah nyata yang mulai membuahkan hasil. Transisi energi bukan lagi sekadar rencana di atas kertas, tapi sudah menjadi arus utama yang menarik modal masuk.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar