Posisi Indonesia di peringkat kedua dunia untuk ketahanan energi? Itu bukan prestasi kecil. Dan menurut pengamat, capaian ini punya kaitan erat dengan langkah-langkah strategis yang diambil pemerintahan saat ini, terutama soal desain kelembagaan.
Semuanya berawal dari keputusan Presiden Prabowo Subianto menunjuk Bahlil Lahadalia sebagai Menteri ESDM. Langkah itu dinilai sebagai penggunaan kewenangan yang tepat.
“Pertama, saya melihat ada penggunaan kewenangan Presiden secara tepat dan terarah dengan menunjuk Pak Bahlil sebagai Menteri ESDM,” ujar Abdul Rahman Farisi, Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Kamis lalu.
Namun begitu, penunjukan itu baru permulaan. Posisi Bahlil kemudian diperkuat dengan sebuah terobosan kelembagaan: pembentukan Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi awal Januari 2025. Satgas inilah yang punya tugas berat, mempercepat hilirisasi SDA sekaligus mengoordinasikan kebijakan yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri antar kementerian.
“Dalam struktur ini, Pak Bahlil memiliki posisi kunci sebagai ketua Satgas sehingga kebijakan tidak terfragmentasi,” jelas Abdul.
Arsitektur kelembagaan itu makin kokoh dengan peran Menteri ESDM sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN). Gabungan peran ini menciptakan sebuah sistem yang terintegrasi. Hasilnya? Menurut Abdul Rahman, sektor energi kita jadi lebih lincah dan adaptif menghadapi gejolak global yang tak pernah reda.
Klaim ini bukannya tanpa bukti. Laporan dari JPMorgan Asset & Wealth Management bertajuk "Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026" menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dalam ketahanan menghadapi guncangan harga energi. Angkanya sekitar 77 persen untuk tingkat perlindungan energi, didorong oleh kekuatan batu bara dan gas domestik, plus kemampuan menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.
Sekretaris Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi. Foto: Istimewa.
Bagi Abdul Rahman, ini jelas pencapaian yang terukur. “Capaian ini menunjukkan bahwa langkah yang diambil mampu menghasilkan dampak nyata. Ini bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi hasil dari desain yang matang, inovasi kebijakan dan eksekusi yang konsisten,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang makin panas, posisi stabil Indonesia tentu jadi modal berharga untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Tapi, ya, tantangan ke depan masih menanti. Isu ketersediaan energi domestik dan ketergantungan impor harus terus diwaspadai.
Masyarakat, kata dia, juga perlu memberi ruang dan dukungan kepada Kementerian ESDM. Terutama dalam memastikan ketersediaan BBM, menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil, dan menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan kondisi yang ada. Semua itu, agar capaian tadi tidak sekadar jadi euforia sesaat.
Artikel Terkait
Indonesia Ekspor 250.000 Ton Pupuk Urea ke Australia, Disambut Apresiasi PM Albanese
Kisah Operasi Kopassus Menaklukkan Dukun Kebal Pasca-G30S
Pemerintah Rencanakan Jaringan Kereta Api 2.800 Km di Kalimantan, Masuk Tahap Perencanaan
Indonesia Desak Investigasi Tuntas Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon