Sebagian wilayah Indonesia sudah mulai merasakan musim kemarau. Tahun ini, kata prediksi, kemaraunya bakal lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Tapi, kok masih sering turun hujan, ya? Itu pertanyaan yang wajar muncul.
Menurut unggahan Instagram @infobmkg, BMKG bilang bahwa April ini sebenarnya masih fase peralihan. Jadi, jangan heran. Fakta di lapangan menunjukkan, awal April 2026 baru sekitar 7,8 persen wilayah Indonesia yang benar-benar masuk musim kemarau. Sisanya? Masih musim hujan. Jadi, wajar saja kalau beberapa daerah masih sering diguyur hujan.
Kemarau sendiri datangnya bertahap. Dari selatan dulu, baru merambat ke utara. Angin monsun Australia yang membawanya, bergerak perlahan dari selatan ke utara Indonesia. Begini kira-kira jadwalnya:
- April-Mei: NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah.
- Juni: Sebagian besar Sumatera.
- Juli: Sebagian Kalimantan dan Sulawesi.
Hujan di Musim Kemarau? Itu Normal
BMKG menegaskan, hujan di musim kemarau itu bukan sesuatu yang aneh. Justru itu normal. Sekali lagi, kita masih di fase peralihan. Belum semua wilayah masuk kemarau.
Musim kemarau bukan berarti langit kering kerontang tanpa setetes air. Hujan masih bisa turun, cuma lebih jarang. Itu saja.
Batas kemarau itu sendiri ditentukan saat curah hujan kurang dari 50 mm per 10 hari atau satu dasarian dan berlangsung terus selama tiga dasarian berturut-turut. Jadi, peluang hujan di musim kemarau tetap ada. Masuk akal, kan?
Musim Kemarau 2026 Terparah dalam 30 Tahun? Hoaks
BMKG memastikan kabar itu tidak benar. Memang, musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dari rata-rata iklim normal. Tapi, bukan berarti ini yang terparah dalam tiga dekade terakhir. Jangan termakan berita miring.
Puncak Kemarau 2026: Agustus
Berdasarkan "Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia" yang dirilis BMKG, sebagian besar wilayah diprediksi akan merasakan puncak kemarau pada Agustus 2026. Berikut beberapa poin penting dari prediksi itu:
- Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai masuk kemarau pada April (114 ZOM; 16,3%), Mei (184 ZOM; 26,3%), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3%). Dimulai dari Nusa Tenggara, lalu bertahap ke wilayah lain.
- Awal musim kemarau di banyak daerah diprediksi lebih awal atau maju (325 ZOM; 46,5%), dan ada juga yang sama dengan normalnya (173 ZOM; 23,7%).
- Akumulasi curah hujan selama kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM; 64,5%) diprediksi berada di kategori bawah normal artinya lebih kering dari biasanya.
- Sebagian besar wilayah (429 ZOM; 61,4%) diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026.
- Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau maju (410 ZOM; 58,7%), dan sisanya sama dengan normal (142 ZOM; 20,3%).
- Lebih dari setengah wilayah Indonesia (400 ZOM; 57,2%) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.
Artikel Terkait
Harga Solar Subsidi Pertamina Tetap Rp6.800 per Liter, BBM Nonsubsidi Naik Tajam
Polri dan FBI Bekuk Pasutri Penjual Alat Peretas, Kerugian Korban Capai Rp350 Miliar
Empat Turis India Nekat Bawa Kabur Handuk hingga Kotak Remote dari Hotel di Gianyar, Berakhir Damai
Pemerintah Kota Semarang Turun Tangan Tangani Biaya Pengobatan Siswi SMP Korban Pembakaran Paman di Tambakmulyo