Korupsi jarang berjalan sendiri. Di balik pelaku utama, seringkali ada lingkaran orang-orang terdekat yang ikut bermain. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini mengungkap fenomena ini, menyoroti peran krusial 'circle' atau lingkaran dalam sejumlah kasus yang mereka tangani.
Menurut KPK, lingkaran dekat koruptor ini kerap bertindak sebagai perantara. Mereka bukan sekadar teman atau keluarga biasa, tapi punya peran aktif dalam skema yang rumit.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan hal ini dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa lalu.
"Dalam berbagai perkara tindak pidana korupsi yang kami tangani, kami melihat adanya pola keterlibatan sejumlah 'circle' di sekitar pelaku utama," ujarnya.
Peran mereka ternyata cukup kompleks. Di satu sisi, mereka menjadi perantara penerimaan uang. Namun begitu, fungsi mereka tak berhenti di situ.
Circle ini juga sering dimanfaatkan untuk menyamarkan asal-usul dana haram. Mereka menciptakan lapisan-lapisan atau 'layering' yang membuat aliran uang hasil korupsi jadi sulit dilacak.
"Mereka tak hanya terlibat saat modus korupsi dijalankan," lanjut Budi. "Tapi juga sering jadi layering untuk penerimaan uang haram itu, sekaligus dipakai untuk mengalirkan dan menyamarkan uang hasil dugaan korupsi."
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa pemberantasan korupsi harus melihat lebih jeli. Bukan cuma pada aktor utamanya, tapi juga pada jaringan yang mengelilinginya. Pola seperti ini, kalau dibiarkan, hanya akan membuat praktik korupsi makin sulit dibongkar.
Artikel Terkait
Pramono Anung Pastikan Subsidi Bus Transjabodetabek Tetap Berjalan, Tarif Rute Tertentu Akan Disesuaikan
Pengendara Motor Tewas Usai Oleng dan Terlindas Mobil Saat Mendahului Bus di Ciampea
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Biaya Isi Penuh Tangki Honda BeAT Tembus Rp68.250
KPK Dorong Penerapan E-Voting, Pengalaman Pilkades Jadi Modal Uji Coba Pemilu Nasional