Tanggal 21 April, kita kembali mengenang sosok Kartini. Bukan cuma soal kesetaraan, tapi lebih dari itu: sebuah keberanian untuk mandiri, mengambil keputusan sulit, dan membawa perubahan nyata. Bayangkan, di tengah duka kehilangan pasangan karena kecelakaan di jalan raya, seorang perempuan tiba-tiba harus berdiri tegak sebagai penopang ekonomi keluarga. Itulah realitas pahit yang dihadapi banyak orang.
Nah, di sinilah Jasa Raharja mencoba hadir. Mereka tak sekadar datang memberi santunan. Data-data menunjukkan, mayoritas korban kecelakaan lalu lintas adalah laki-laki di usia produktif. Dampaknya luar biasa, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Perempuan pun seringkali tak punya pilihan lain selain mengambil alih peran sebagai pencari nafkah utama.
Menurut sejumlah pihak, layanan santunan yang cepat dan transparan memang penting sebagai langkah awal. Tapi itu belum cukup. Negara, lewat Jasa Raharja, berupaya untuk lebih dari itu. Mereka punya program pemberdayaan, seperti TJSL dan JR Pelita, yang fokus pada keluarga ahli waris. Bantuan modal, pelatihan, sampai pendampingan usaha diberikan agar perempuan benar-benar bisa bangkit dan mandiri.
Di sisi lain, peran perempuan dalam membangun budaya keselamatan juga krusial. Edukasi tertib lalu lintas seringkali berawal dari rumah. Ibu adalah sosok pertama yang menanamkan nilai disiplin dan kehati-hatian kepada anak-anaknya. Ini adalah fondasi yang sederhana tapi sangat berarti.
Direktur Hubungan Kelembagaan Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, menegaskan bahwa nilai perjuangan Kartini masih sangat relevan sampai sekarang.
“Menjadi wanita masa kini itu tentang punya nyali untuk berdiri tegak menentukan pilihan. Tentang jadi mandiri atas setiap jalan hidup yang kita ambil. Kemandirian ini bukan cuma buat membuktikan diri, tapi lebih pada percaya bahwa kita punya kekuatan untuk mengubah keadaan. Semangat inilah yang dulu diperjuangkan Ibu Kartini,” ujar Dewi dalam rilis yang diterima Selasa (21/4/2026).
Dia melanjutkan, semangat itu kini hidup dalam keseharian perempuan Indonesia yang tangguh dan terus berkontribusi di berbagai bidang.
“Kartini masa kini ada pada mereka yang melangkah dengan tegar, yang menggerakkan roda ekonomi, sampai mereka yang dengan sabar merawat keluarga dari dalam rumah sambil memberi manfaat untuk lingkungan sekitarnya,” ungkap Dewi.
Intinya, melalui berbagai program tadi, Jasa Raharja berusaha agar perempuan tidak cuma terlindungi. Tapi juga punya peluang untuk bangkit dan berkembang. Semangat Kartini sekarang ini bukan lagi sekadar wacana emansipasi. Ia telah berubah menjadi sebuah dorongan konkret untuk maju, dengan dukungan yang juga nyata.
Artikel Terkait
Manajer Investasi Soroti Risiko Penjualan Saham Terkonsentrasi Usai Keputusan MSCI
Kedutaan AS di Baghdad Serukan Warga Segera Tinggalkan Irak, Sebut Ancaman Milisi Pro-Iran
DPR Sahkan UU Perlindungan Saksi dan Korban, LPSK Diperkuat
Strategi Keluar dari Jerat Pinjol dan Pentingnya Mengecek SLIK OJK