Jenazah Ayatollah Khamenei Belum Dimakamkan, Rezim Dikhawatirkan Takut Gelar Upacara Besar

- Selasa, 21 April 2026 | 06:15 WIB
Jenazah Ayatollah Khamenei Belum Dimakamkan, Rezim Dikhawatirkan Takut Gelar Upacara Besar

Sudah lewat tujuh minggu sejak Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia. Tapi, jenazah mantan pemimpin tertinggi Iran itu masih belum juga dimakamkan. Ada apa sebenarnya?

Laporan dari sejumlah media internasional menyebut, hingga Senin (20/4/2026) lalu, otoritas setempat ternyata masih bingung menentukan lokasi peristirahatan terakhir untuk Khamenei. Ini bukan perkara sepele.

Di sisi lain, situasi di lapangan memang sedang panas. Pemerintahan Teheran yang kini dipegang oleh anak Khamenei, Mojtaba, konon sedang fokus menghadapi ancaman yang dianggap sangat serius dari pasukan AS dan Israel. Ancaman itu disebut-sebut membahayakan eksistensi mereka.

Tapi, ada penilaian lain yang lebih menusuk. Seorang pakar keamanan berpendapat, para pejabat Iran sebenarnya "terlalu takut" untuk menggelar upacara pemakaman yang besar dan mewah. Bayangkan kerumunan massa yang tak terkendali di tengah situasi perang.

Behnam Taleblu dari Yayasan untuk Pembelaan Demokrasi memberikan analisisnya yang cukup gamblang.

Rezim Mojtaba lumpuh karena ketakutan. Iran tidak dalam posisi untuk menggelar seremoni peringatan yang megah saat perang yang diwarnai gencatan senjata yang rapuh.

Kalau kita melihat ke belakang, suasana sama sekali berbeda saat Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendahulu Khamenei, wafat pada 1989. Waktu itu, Iran menggelar prosesi selama berhari-hari. Jutaan rakyat memadati jalanan Teheran, menyatakan duka mereka dengan luapan emosi yang dahsyat.

Namun begitu, untuk Khamenei sekarang, pemandangan seperti itu tampaknya mustahil terulang. Perang dengan AS dan Israel terus berkecamuk, menciptakan atmosfer ketidakpastian dan kecemasan yang mencekik. Upacara besar-besaran bukan hanya soal penghormatan, tapi juga risiko keamanan yang nyata. Dan rezim yang sedang berkuasa tampaknya lebih memilih untuk berhati-hati, menunda, dalam keheningan yang penuh teka-teki.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar