Jakarta, Minggu lalu. Suasana di acara Halalbihalal Pengurus Besar Ikatan Alumni PMII itu terasa hangat, penuh gelak tawa dan pelukan lama. Tapi di balik keakraban reuni, ada pembicaraan serius tentang masa depan. Masa depan organisasi, dan kontribusinya untuk Indonesia. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, atau PMII, memang bukan nama asing. Lembaga ini telah melahirkan banyak tokoh yang kini mengisi posisi-posisi strategis, mulai dari gelanggang politik, birokrasi, sampai dunia kampus.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, hadir dengan pesan yang tegas. Menurutnya, kekuatan PMII yang sudah tak diragukan lagi itu harus dikelola dengan serius. Untuk apa? Untuk menjawab tantangan bangsa yang nyata, terutama soal kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih menganga.
“PMII harus terus naik kelas,” tegasnya.
Dia melanjutkan, organisasi ini tak boleh cuma kuat secara jaringan. Lebih dari itu, harus mampu menawarkan solusi konkret bagi persoalan yang dihadapi rakyat sehari-hari. Cak Imin juga mengingatkan sesuatu yang sering terlupa. Bahwa jabatan atau posisi hanyalah instrumen. Bukan tujuan akhir. Orientasi utamanya tetaplah pengabdian, untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas. Acara yang digelar pada 19 April 2026 itu juga dirangkai dengan Refleksi Hari Lahir PMII ke-66, memberi nuansa kontemplatif di tengang obrolan strategis.
Di sisi lain, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti sesuatu yang lebih luas: panggung global. Dia menilai, karakter moderat Islam Indonesia adalah sebuah kekuatan. Aset berharga yang bisa jadi penjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
“Indonesia punya posisi penting dalam peradaban global,” ujar Nasaruddin.
Nilai-nilai Islam yang inklusif dan ramah itu, katanya, harus terus dipelihara dan disebarkan. Dan di situlah, alumni PMII punya tanggung jawab besar. Bukan cuma menjaga, tapi juga memperkuat kontribusi nyata di bidang pendidikan, pemikiran, dan tentu saja, sosial keagamaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dok. Istimewa
Sementara itu, dari sudut pandang yang agak berbeda, Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid bicara soal konsolidasi. Tantangan ke depan, terutama terkait isu sensitif seperti akses sumber daya dan keadilan agraria, membutuhkan kekuatan yang terorganisir rapi.
“Yang dibutuhkan bukan cuma kekuatan individu,” kata Nusron.
Dia menekankan, yang penting sekarang adalah kekuatan kolektif. PMII, dalam pandangannya, harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Caranya? Dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor. Hanya dengan begitu dampak gerakannya bisa terasa lebih luas dan menyeluruh. Intinya, PMII harus jadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.
Lalu, bagaimana penyelenggaranya melihat acara ini? Ketua Panitia, Basnang Said, dalam laporannya menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar tradisi tahunan yang bersifat seremonial belaka. Ini adalah ruang untuk memperkuat jejaring, merajut kembali solidaritas yang mungkin kendur karena kesibukan masing-masing.
“Ini momentum untuk menyambung silaturahmi, merawat solidaritas,” ujar Basnang.
Dia juga menyebutkan, rangkaian kegiatan alumni selama Ramadan sebelumnya menunjukkan bahwa semangat untuk bergerak dan memberi dampak nyata di masyarakat masih sangat hidup. Jadi, halalbihalal ini lebih dari sekadar salam-salaman. Ini adalah deklarasi untuk mempertegas arah gerakan ke depan.
Artikel Terkait
Susi Usulkan Ikan Sapu-sapu Diolah Jadi Pakan dan Pupuk
Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam di Bandara, Dua Tersangka Diamankan
Gubernur DKI Akhirnya Setujui GBK Sebagai Lokasi Konser BTS
Harga Buyback Emas Antam di Pegadaian Stagnan, Stok Ukuran Besar Kosong