Di sebuah bengkel di Sragen, Hendi Saputro menghabiskan hari-harinya. Bukan untuk sekadar iseng, tapi untuk bertahan hidup. Ayahnya terserang stroke, sehingga remaja itu terpaksa menunda sekolah dan mencari nafkah.
Harapan itu sempat redup. Tapi rupanya, jalan itu tidak tertutup selamanya.
Melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 di Sragen, cahaya itu kembali muncul. Hendi, yang berasal dari Plosorejo, Bendungan, Kabupaten Sragen, akhirnya bisa merajut lagi mimpinya yang nyaris putus.
Kehidupannya berubah total sejak ibunya meninggal tujuh tahun silam. Saat itu usianya baru sembilan tahun. Ia dan adiknya harus menghadapi kenyataan pahit: sang ayah tak lagi mampu bekerja, keluarga mereka terpuruk.
Neneknya memungut sisa-sisa karet untuk dijual, sementara sang kakek bekerja sebagai juru kunci makam. Dalam situasi serba sulit seperti itu, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi terasa seperti mimpi di siang bolong.
"Dulu lulus SD, saya mau lanjut SMP gak bisa karena bapak saya stroke, (beliau) gak bisa menafkahi,"
Ujar Hendi, dikutip pada suatu Minggu di pertengahan April 2026.
Alih-alih berseragam putih biru, tangannya lebih akrab dengan oli dan perkakas bengkel. Dari sana, ia bisa membawa pulang sekitar Rp150.000 per pekan. Uang itu untuk makan sehari-hari, sekaligus buat uang saku adiknya.
Namun begitu, nasib baik akhirnya mengetuk pintunya.
Kesempatan itu datang lewat Sekolah Rakyat. Kini, ia kembali duduk di bangku sekolah, melakukan sesuatu yang dulu mustahil baginya.
"Banyak banget (fasilitasnya) disini lengkap semua. Dari tas dikasih, laptop dikasih, fasilitas untuk belajar juga dikasih. Gratis semua," kata Hendi dengan semangat.
Bahkan kebutuhan paling mendasar pun terpenuhi. Ia kini bisa makan tiga kali sehari ditambah dua kali snack – sebuah kemewahan yang jarang ia rasakan sebelumnya.
Bagi Hendi, tempat ini lebih dari sekadar sekolah. Ini adalah titik balik. Di sini, mimpi yang terpendam mulai dihidupkan kembali.
"Cita-cita saya ingin kerja di Jepang," ungkapnya penuh harap.
Dengan semangat yang baru, masa depan terlihat lebih cerah. Ia pun menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
"Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo karena telah memberikan program sekolah rakyat. Dengan sekolah ini, saya semoga bisa menggapai cita-cita saya," ujar Hendi.
Ia juga mendoakan kesehatan presiden yang telah menginisiasi program tersebut. Kisah Hendi ini bukan cuma sekadar cerita. Ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah program pendidikan bisa membuka kembali pintu yang sudah tertutup bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung.
Dari bisingnya bengkel, langkahnya kini beradu dengan lantai kelas. Membawa serta harapan, dan keyakinan baru, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Sore Ini
Manchester City Kalahkan Arsenal 2-1, Jarak Puncak Klasemen Menyempit
AS Tembak dan Sita Kapal Kargo Iran di Teluk Oman, Tuduh Langgar Gencatan Senjata
Ekspor Unggas Indonesia Tembus Rp18,2 Miliar di Triwulan I 2026