Houthi Siaga Penuh dan Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb

- Minggu, 19 April 2026 | 16:25 WIB
Houthi Siaga Penuh dan Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb

Ancaman agresi terhadap Yaman membuat kelompok Houthi siaga penuh. Mereka pun mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu, terutama dalam menghadapi serangan yang dinilai berasal dari Israel dan Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan di pemerintahan yang dikendalikan Houthi, Mayor Jenderal Mohammed al-Atifi, menegaskan hal itu. Pernyataannya dilaporkan oleh Al Jazeera, Minggu lalu.

"Siaga tinggi untuk menghadapi setiap agresi terhadap rakyat Yaman," tegasnya.

Al-Atifi juga menyebut bahwa babak konflik terbaru ini justru menunjukkan sesuatu. Menurutnya, konflik dengan apa yang dia sebut "musuh Zionis dan Amerika" justru mewujudkan persatuan. Front perlawanan menjadi satu, dan operasi militer yang dilakukan oleh apa yang dia sebut "poros jihad" terbukti efektif melawan musuh.

Memang, sejak akhir Maret lalu, Houthi secara resmi terlibat dalam perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Mereka sudah melancarkan sejumlah serangan. Rudal balistik jarak jauh dan drone mereka pernah mengarah ke Israel, membuka front baru dalam konflik yang sudah berlarut-larut ini.

Dan mereka tak berniat berhenti. Milisi itu bersumpah akan terus menyerang sampai perang benar-benar usai. Senjata mereka, kata mereka, siap untuk menghantam situs-situs militer sensitif. Bahkan, lalu lintas kapal di Laut Merah pun tak luput dari ancaman.

Ancaman itu semakin konkret dengan peringatan dari pejabat tinggi mereka. Hussein al-Ezzi, Wakil Menteri Luar Negeri pemerintahan Houthi, mengeluarkan peringatan keras. Dia menyebut soal penutupan Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran vital di lepas pantai Yaman.

Hal itu bisa terjadi, katanya, jika Presiden AS Donald Trump terus menghalangi upaya perdamaian.

"Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya," tulis al-Ezzi dalam sebuah pernyataan di media sosial X.

Peringatannya jelas. "Oleh karena itu, yang terbaik bagi Trump dan dunia yang terlibat adalah segera mengakhiri semua praktik dan kebijakan yang menghalangi perdamaian. Tunjukkan rasa hormat yang diperlukan untuk hak-hak rakyat dan bangsa kita," sambungnya.

Jadi, situasinya tegang. Laut Merah menunggu, sementara ancaman untuk menutup selat strategis itu menggantung di udara.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar