Suasana tegang kembali menyelimuti Lebanon selatan. Seorang tentara Prancis gugur, sementara tiga rekannya terluka dalam sebuah insiden penembakan. Mereka adalah bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB, UNIFIL, yang tengah bertugas membersihkan jalan di wilayah itu.
Dari Paris, kemarahan Presiden Emmanuel Macron langsung tersulut. Ia dengan tegas mengutuk serangan yang ia sebut "tidak dapat diterima".
"Mengutuk serangan yang tidak dapat diterima,"
Begitu bunyi pernyataan resmi dari istana Élysée, yang dikeluarkan Minggu (19/4/2026). Macron sendiri langsung menelepon para pemimpin Lebanon, Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, untuk membahas insiden memilukan ini.
Korban jiwa itu bukan satu-satunya. Dari tiga prajurit yang terluka, kabarnya dua orang di antaranya mengalami cedera serius. Kondisi mereka masih terus dipantau.
Lantas, siapa dalang di balik tembakan itu? Menurut penilaian awal UNIFIL, pelakunya diduga berasal dari aktor non-negara. Mereka punya kecurigaan kuat terhadap kelompok Hizbullah. Bahkan, penyelidikan sementara menyimpulkan bahwa serangan ini dilakukan dengan sengaja, bukan sekadar tembakan nyasar.
Macron sendiri tak ragu menyebutkan pihak yang ia duga. Bukti-bukti awal, ujarnya, mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran. Ia mendesak pemerintah Lebanon untuk segera bertindak dan menindak tegas pihak yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, Sekjen PBB Antonio Guterres juga tak ketinggalan menyuarakan kecaman. Ia mendesak semua faksi yang bertikai untuk menghentikan kekerasan dan menghormati gencatan senjata yang ada.
Tapi narasi itu dibantah keras oleh Hizbullah. Kelompok tersebut menyatakan keterkejutannya dan menilai tuduhan terhadap mereka terburu-buru dan sama sekali tak berdasar.
"Keterkejutannya atas posisi yang terburu-buru membuat tuduhan tanpa dasar,"
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, memberi gambaran yang lebih jelas. Patroli itu diserang ketika sedang berupaya membuka akses jalan. Tujuannya: mencapai sebuah pos UNIFIL yang terisolasi akibat pertempuran di sekitarnya.
Insiden mematikan itu terjadi di desa Ghandouriyeh. Sang prajurit Prancis tewas akibat hujan peluru senjata ringan yang menghujam langsung.
Respons juga datang dari otoritas Lebanon. Tentara Lebanon mengutuk penembakan dan membuka penyelidikan. Presiden Aoun menyampaikan duka citanya yang mendalam dan memerintahkan penyelidikan secepatnya. Perdana Menteri Salam pun ikut mengutuk.
UNIFIL bukanlah pendatang baru di bumi Lebanon. Mereka telah berada di sana sejak 1978, bertahan melalui berbagai gelombang konflik, termasuk perang tahun 2024 yang lalu. Sayangnya, pos-pos mereka kerap menjadi sasaran, seolah mengingatkan betapa rapuhnya perdamaian di wilayah itu.
Artikel Terkait
El Nino Godzilla Ancam Produksi Padi dan Jagung, Pakar UMY Peringatkan Krisis Pangan
Pria di Tangerang Tewaskan Ibu Tiri Diduga Dipicu Penolakan Pinjam HP dan Pengaruh Narkoba
Kementerian PU Resmikan Dua Sentra Gizi Baru di Perbatasan RI-Timor Leste
Polisi Bongkar Laboratorium Tembakau Sintetis di Apartemen Jakarta Pusat