Jakarta, musim kemarau tahun ini bakal jadi ujian berat. Fenomena El Nino yang dijuluki "Godzilla" diprediksi akan berbarengan dengan periode kering itu. Kombinasi ini bukan cuma soal cuaca panas biasa, tapi ancaman serius buat kesehatan dan yang lebih mengkhawatirkan ketahanan pangan kita.
Oki Wijaya, seorang dosen di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), membeberkan risikonya. Menurut dia, produktivitas sejumlah komoditas pangan strategis terancam gagal panen. Suhu tinggi memicu banyak masalah: air di tanah cepat hilang, fotosintesis tanaman terganggu, stres pada tanaman makin cepat, dan proses penting seperti pembungaan sampai pembentukan hasil pun jadi kacau.
"Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu, terutama pada fase reproduktif," ujar Oki, Minggu (19/4/2026).
Komoditas yang Paling Terancam
Lalu, tanaman apa saja yang paling rentan? Oki menyebut beberapa nama yang familiar di meja makan kita. Padi dan jagung, tentu saja. Lalu ada cabai, tomat, dan bahkan kopi. Setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu global, menurut perhitungannya, bisa bikin hasil panen merosot signifikan padi turun 3,2%, jagung 7,4%, gandum 6%, dan kedelai 3,1%.
Angka-angka itu, katanya, bukan cuma teori. Ini indikator nyata yang relevan dengan kondisi sekarang.
"Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat," jelasnya.
Gejala Awal Sudah Kelihatan
Sebenarnya, dampak suhu ekstrem ini sudah mulai terlihat di lapangan. Meski belum dicatat sebagai gagal panen total, gejala awalnya jelas. Tanaman layu dengan cepat di siang hari, pembungaannya bermasalah, kualitas hasilnya menurun.
Namun begitu, bahaya sesungguhnya muncul ketika panas tinggi bertemu dengan kekurangan air. Di masa pancaroba dengan curah hujan yang menipis, tanaman menghadapi tekanan ganda. Situasinya jadi jauh lebih berat.
"Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat," katanya menegaskan.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi Pexels
Sebagai langkah mitigasi, Oki punya sejumlah rekomendasi. Petani perlu menyesuaikan waktu tanam, berhemat dalam penggunaan air, dan memberi perlindungan ekstra saat tanaman berbunga. Memilih varietas yang lebih tahan panas juga jadi kunci.
Di sisi lain, peran pemerintah dinilai crucial. Mulai dari memastikan informasi cuaca yang akurat dan mudah diakses, menyediakan benih tahan panas, sampai memperkuat infrastruktur irigasi. Semua itu untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
Oki mengingatkan, penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi jauh sebelum data resmi mencatatnya. "Untuk memastikan skala dampaknya, tetap diperlukan verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah," ucapnya. Artinya, kita harus jeli dan proaktif. Jangan tunggu sampai krisis benar-benar terjadi.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Gunakan Drone ETLE untuk Awasi Lalu Lintas Kemala Run 2026 di Gianyar
Getaran Misterius Guncang Tiga Blok di Desa Cipanas Cirebon, Warga Panik
NEXT Indonesia Center: Ekonomi 2026 Masih Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia