REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Situasi di Selat Hormuz memang lagi panas. Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Teluk Arab. Mereka belum bisa melintasi selat strategis itu karena kondisi keamanan yang terus berubah-ubah.
Vega Pita, yang menjabat sebagai Corporate Secretary PIS, bilang perusahaan terus memantau perkembangan dengan ketat. Koordinasi intensif juga dilakukan dengan berbagai pihak, mulai dari kementerian sampai otoritas berwenang. Intinya, mereka lagi sibuk banget.
“Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya,” tegas Vega dalam keterangan resminya, Sabtu (19/4).
Di saat yang sama, PIS juga lagi menyiapkan rencana pelayaran baru. Rencana ini, kata mereka, benar-benar mengutamakan aspek keselamatan. Mereka berharap situasi di jalur itu cepat membaik supaya kedua kapal bisa berlayar lagi dengan tenang.
Nah, Selat Hormuz ini kan emang titik rawan. Ia menghubungkan Teluk Arab dengan pasar global dan jadi jalur vital untuk minyak. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia lewat sini. Jadi, kalau ada gangguan sedikit saja, dampaknya langsung terasa ke rantai pasok energi global.
Menurut laporan Reuters, meski secara resmi nggak ditutup, suasana di lapangan tetap fluktuatif. Faktor keamanan dan geopolitik yang belum stabil bikin banyak operator pelayaran dan perusahaan energi global main aman. Mereka pada hati-hati.
Risikonya meningkat. Potensi gangguan terhadap kapal komersial yang melintas di sana masih dianggap serius. Makanya, langkah PIS buat nahan dulu pelayaran dinilai sebagai bentuk mitigasi risiko yang wajar. Mereka memastikan setiap keputusan operasional mempertimbangkan perkembangan terbaru dan saran dari otoritas.
Jadi, gini deh. Dengan situasi yang masih dinamis kayak gini, pelaku industri pelayaran global termasuk PIS pada memilih untuk nunggu dulu. Mereka pengin ada kepastian soal kondisi keamanan sebelum nekat melintasi Selat Hormuz.
Sebelumnya, pemerintah Iran sempat membuka akses pelayaran di tengah ketegangan kawasan. Tapi, ya itu tadi, realitas di lapangan ternyata nggak segampang itu. Semuanya masih belum pasti.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Gunakan Drone ETLE untuk Awasi Lalu Lintas Kemala Run 2026 di Gianyar
Getaran Misterius Guncang Tiga Blok di Desa Cipanas Cirebon, Warga Panik
NEXT Indonesia Center: Ekonomi 2026 Masih Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia