JK Murka Dituding Nistakan Agama, Ini Penjelasannya
Jusuf Kalla jelas-jelas kesal. Mantan Wakil Presiden itu geram dengan pihak-pihak yang menuduhnya menistakan agama Kristen. Tudingan itu muncul menyusul ceramahnya di sebuah masjid di kawasan UGM. Padahal, kata JK, ia hanya menggunakan istilah "syahid" karena saat itu tengah berbicara di hadapan jamaah masjid.
"Menjelaskan tentang ceramah saya, ceramah Ramadhan, artinya yang hadir cuma orang muslim di masjid, di kampus, berarti yang hadir orang intelektual, dan lingkungan terbatas. Itu dahulu dipahami," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (18/4).
Suasana saat itu memang khusus. Sebelum masuk ke inti ceramah, JK lebih dulu memutar video tentang kondisi konflik di Indonesia, seperti di Maluku dan Poso. Situasinya sungguh mencekam, menurutnya. Dan fakta di lapangan menunjukkan, isu agama kerap jadi pemicu.
"Inilah konflik, bagaimana kejamnya waktu itu, paling jahat, paling ganas, inilah. Itu jelas dikatakan tadi (tokoh agama), agama masuk di situ, Islam-Kristen berbuat begitu," tuturnya.
Isu itulah yang kemudian memicu aksi brutal. Pembunuhan terjadi. Bahkan, tetangga yang biasa hidup rukun tiba-tiba saling membakar rumah. Situasi chaos.
"Kami bertiga masuk ke situ untuk menenangkan, Anda berani tidak, berani tidak Ade Armando ke situ," kenang JK.
Lantas, bagaimana ceramahnya di Masjid UGM bisa disalahpahami? JK menerangkan, ia diundang sebagai narasumber di bulan Ramadhan dengan tema besar perdamaian. Itu yang mau ia sampaikan.
"Jadi, saya ingin jelaskan tentang di UGM itu, acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa dilakukan di masjid. Saya diundang datang karena temanya perdamaian. Saya jelaskan tentang perdamaian, perdamaian adalah akhir dari konflik, apa itu konflik, akhir dari perdamaian. Kemudian mulai konflik dunia ini, konflik di Eropa, perang dunia pertama saya uraikan," paparnya panjang lebar.
Ia menjabarkan satu per satu. Dari konflik ideologi di Madiun, masalah wilayah seperti Timor Timur, hingga persoalan ekonomi di Aceh. Baru kemudian, sangat singkat, ia menyentuh konflik bernuansa agama.
Contohnya ya Poso itu. JK turun langsung ke lokasi, jadi ia paham betul akar masalahnya. Salah satunya, pemahaman tentang "perang suci". Dalam benak para pihak yang bertikai, siapa yang gugur membela agama akan mendapat gelar terhormat.
"Saya mendamaikan ini, apa saya menista agama, saya pertaruhkan jiwa saya masuk ke daerah itu. Saya tahu kenapa dia berbuat begitu, dia pikir ini perang agama (perang suci), siapa yang meninggal akan syahid untuk Islam, Kristen namanya martir, tapi saya berada di masjid, tidak mengerti martir, karena hampir sama syahid dengan martir, cuma bedanya caranya," ungkapnya.
Nah, di sinilah poinnya. Karena berceramah di masjid, ia memilih kata "syahid" yang lebih dipahami jamaah. Bukan "martir".
"Kalau syahid mati karena membela agama, martir juga begitu mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja, saya di masjid maka saya pakai kata syahid karena kalau saya pakai kata martir jamaah tidak tahu," tegasnya.
Namun begitu, ceramahnya justru dipelintir. Video yang beredar dipotong sedemikian rupa hingga menimbulkan tudingan penistaan. Hal inilah yang membuatnya murka. Bagaimana mungkin ia yang dulu terjun mendamaikan konflik, justru dituding sebagai penista? Sungguh ironis.
Artikel Terkait
Polisi Gerebek Lagi Lokasi Pengoplosan LPG di Cileungsi
PDRB Jatim Tembus Rp3.403 Triliun, Kontribusi ke Nasional Capai 14,4%
Gus Ipul: Program Sekolah Rakyat Tunjukkan Hasil, Siswa Lebih Percaya Diri dan Berkarakter
Prodia Resmikan Klinik Stem Cell Pertama, Fokus pada Pengobatan Ortopedi