Investor Relokasi Pabrik Truk Listrik dari China ke Cilegon dengan Nilai Rp10 Triliun

- Jumat, 17 April 2026 | 19:15 WIB
Investor Relokasi Pabrik Truk Listrik dari China ke Cilegon dengan Nilai Rp10 Triliun

IDXChannel – Sebuah investasi besar-besaran, senilai Rp10 triliun, akhirnya mengalir untuk membangun pabrik truk listrik pertama di Indonesia. Yang menarik, proyek ini digarap bersama oleh Nusantara Halid Grup (NH Group) dan Grand Seleron Indonesia (GSI).

Inti dari investasi ini adalah memindahkan pabrik milik Cang Kuang Mining Machinery (CKMM) dari China ke Indonesia. Lokasinya nanti bakal di kawasan Krakatau Industrial Estate, Cilegon, Banten. Jadi, bukan membangun dari nol, melainkan relokasi pabrik yang sudah ada.

Menurut Direktur Utama PT Nusantara Halid, Andy Nursyam Halid, langkah ini juga melibatkan pemain lain dari China.

"Kami mengajak beberapa pabrik suku cadang terkait. Salah satunya Global Mainstream Dynamic Energy Technology Ltd dari Changzhou. Mereka nantinya akan menyuplai baterai untuk CKMM," jelas Andy dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4/2026).

Nah, komitmen ini sudah diperkuat dengan penandatanganan perjanjian di akhir Februari lalu. PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) sepakat melego lahan industri seluas 8 hektare kepada PT Almas Mandiri Anugerah (AMA), anak usaha GSI. Tapi itu baru awal. Rencananya, area pengembangannya bakal meluas hingga 50 hektare. Untuk pengadaan lahan saja, nilai investasinya sudah mencapai Rp1,2 triliun.

Lantas, mengapa KSI yang merupakan anak usaha BUMN Krakatau Steel ini tertarik? Ternyata, mereka melihat prospek cerah dari rencana korporat China membangun industri truk listrik di sini. Mereka bahkan sudah menyaksikan langsung teknologi pengisian baterainya di Pelabuhan Changzhou. Menurut mereka, dengan pengisian satu jam saja, truk listrik itu bisa beroperasi hingga 12 jam. Cukup efisien.

Di sisi lain, kolaborasi ini rupanya tidak berhenti di situ. NH Group juga sedang menjajaki kerja sama dengan raksasa baja asal China, Hunan Iron & Steel Group (HISG). Tujuannya jelas: untuk membantu Krakatau Steel mengimpor besi baja murni. Material ini sangat krusial sebagai bahan baku pembuatan truk listrik, alat berat, dan tongkang.

HISG sendiri bukan perusahaan kecil. Berdiri sejak 1997 di Provinsi Hunan, kapasitas produksinya mencapai 30 juta ton per tahun dengan dukungan 36.000 pekerja. Fundamental keuangannya juga kuat. Total asetnya menyentuh 200 miliar yuan, dengan pendapatan operasional sekitar 240 miliar yuan.

Selain kerja sama dengan HISG, PT Nusantara Halid juga telah meresmikan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Global Mainstream Dynamic Energy Technology, Ltd. MoU ini bertujuan untuk memperluas penetrasi pasar Battery Energy Storage (BES) di Indonesia. Jadi, langkah-langkahnya berjalan beriringan, tidak hanya fokus pada produksi kendaraannya saja.

Semua langkah ini menunjukkan betapa seriusnya konsorsium ini dalam menggarap industri kendaraan listrik, khususnya truk, di tanah air. Investasi Rp10 triliun tentu bukan angka main-main. Sekarang, kita tinggal menunggu realisasinya di lapangan.

(NIA DEVIYANA)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar