IMF Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ke 5% pada 2026

- Kamis, 16 April 2026 | 10:15 WIB
IMF Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ke 5% pada 2026

Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) membawa kabar yang kurang menggembirakan untuk perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi kita diproyeksikan hanya mencapai 5% pada tahun 2026. Angka ini turun 0,1% dari perkiraan mereka di Januari lalu yang optimis di level 5,1%.

Revisi ke bawah ini, meski tipis, punya cerita yang lebih besar di baliknya. Menurut lembaga yang bermarkas di Washington DC itu, perlambatan ini sejalan dengan tren global yang sedang lesu. Pemicu utamanya? Pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026 lalu. Konflik itu benar-benar mengacaukan banyak hal.

Neraca transaksi berjalan Indonesia juga diprediksi melebar, dari -0,1% PDB di 2025 menjadi -1,1% PDB di tahun depan. Tingkat pengangguran diperkirakan stagnan di angka 4,9%. Yang cukup mengkhawatirkan adalah proyeksi inflasi, yang disebut akan melonjak tajam ke 3% dari realisasi sebelumnya yang hanya 1,9%.

Secara global, situasinya memang suram. IMF menetapkan skenario dasar pertumbuhan ekonomi dunia melambat jadi 3,1% di 2026, turun 0,2% dari proyeksi sebelumnya. Tensi geopolitik di Timur Tengah telah menciptakan tekanan balik yang serius terhadap pasar komoditas, ekspektasi inflasi, dan kondisi keuangan secara keseluruhan.

Padahal, tanpa konflik itu, situasinya bisa jauh berbeda. IMF mengakui bahwa proyeksi pertumbuhan global justru berpotensi direvisi naik 0,1% menjadi 3,4%.

"Inflasi umum global diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dan menurun ke 3,7% pada 2027, yang menandai revisi ke atas untuk kedua tahun tersebut,"

Begitu bunyi ringkasan eksekutif laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April yang dirilis Selasa (14/4) lalu.

IMF bahkan tak segan membuat skenario terburuk. Bayangkan jika infrastruktur energi di wilayah konflik mengalami kerusakan parah. Dalam kondisi ekstrem itu, pertumbuhan global bisa terjun bebas ke level 2% saja pada 2026. Inflasi? Bisa menembus di atas 6% pada tahun berikutnya.

Dampaknya tentu tidak akan dirata. Menurut analisis IMF, negara-negara yang berada tepat di wilayah konflik, plus negara berkembang dan pengimpor komoditas, akan merasakan pukulan paling telak. Mereka adalah pihak yang paling rentan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? IMF mendesak para pembuat kebijakan di berbagai negara untuk segera bertindak. Paket kebijakan yang komprehensif dibutuhkan. Prioritas utama adalah menjaga stabilitas harga dan sektor keuangan, sekaligus memastikan keberlanjutan fiskal. Reformasi struktural juga harus dijalankan, tanpa ditunda-tunda lagi.

Bank sentral diimbau untuk tetap waspada dan siap mengambil langkah tegas. Tujuannya jelas: mencegah guncangan pasokan yang berkepanjangan ini mengobrak-abrik ekspektasi inflasi yang sudah tertanam di pasar.

Di sisi fiskal, jika pemerintah perlu turun tangan misalnya untuk melindungi kelompok masyarakat yang rentan bantuan itu harus tepat sasaran. Waktunya juga tidak boleh molor, dan sifatnya sementara. Dan yang penting, dananya sebaiknya berasal dari reprioritisasi anggaran yang sudah ada, bukan dari utang baru.

Jadi, lanskap ekonomi 2026 dipenuhi ketidakpastian. Laporan IMF ini seperti pengingat: badai mungkin datang, dan persiapan harus matang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar