"Keluarga besar Universitas Muslim Indonesia menyatakan dengan penuh tanggung jawab bahwa kami berdiri tegak untuk menjaga kehormatan Bapak Jusuf Kalla," katanya.
Pembelaan ini, klaimnya, bukan cuma emosional. Tapi berdasarkan rasionalitas akademik, rekam jejak sejarah, dan integritas yang teruji puluhan tahun. Menyerang pribadi JK, termasuk kehidupan bisnisnya tanpa dasar yang sah, dianggapnya sebagai bentuk simplifikasi berbahaya. "Itu menunjukkan kedangkalan berpikir publik," ujar dia.
Hambali lantas mengingatkan nilai luhur Bugis-Makassar: Sipakatau. Itu bukan sekadar budaya, tapi batas kehormatan. Dia memperingatkan pihak-pihak yang memelintir narasi agar tidak bermain-main dengan api perpecahan di ruang digital.
"Jangan menjadikan bangsa ini sebagai korban eksperimen narasi dan jangan meremehkan kecerdasan publik Indonesia," serunya.
Kalau dibiarkan, yang retak bukan cuma reputasi seseorang. Tapi kepercayaan sosial, fondasi penting sebuah bangsa. Sejarah mengajarkan, disintegrasi sering dimulai dari retakan kecil yang diabaikan.
Di tengah situasi global yang serba tak pasti dan ekonomi yang fluktuatif, Indonesia justru butuh ketenangan. Butuh kedewasaan dan kebersamaan. Hambali mengajak semua pihak untuk tidak menurunkan kualitas diskursus publik jadi sekadar konten viral tanpa makna.
"Jangan gadaikan persatuan hanya untuk kepentingan sesaat," pesannya.
Menghormati negarawan, baginya, adalah bagian dari menjaga kewarasan bangsa. Dalam tradisinya, ada nilai siri’ na pacce, harga diri dan empati.
"Kebenaran tidak boleh kalah oleh potongan narasi. Dan hukum tidak boleh diam ketika kehormatan dipermainkan," pungkas Hambali menegaskan.
Artikel Terkait
Gus Kikin Serukan Jaminan Keamanan Saudi Arabia untuk Haji 2026
Kemlu Tegaskan Tak Ada Akses Bebas Ruang Udara untuk Pesawat Militer AS
Stylist Ungkap 5 Tips Padu-Padan Warna Hijab dan Outfit
Pria 77 Tahun Ditemukan Tewas Terlilit Jala di Sungai Ciliwung Bogor