Menteri Bappenas Soroti Inovasi Bahan Bakar Sawit dari Kampus untuk Dukung B50

- Rabu, 15 April 2026 | 05:45 WIB
Menteri Bappenas Soroti Inovasi Bahan Bakar Sawit dari Kampus untuk Dukung B50

SURABAYA Di tengah upaya pemerintah mendorong mandatori biodiesel B50, Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy menyoroti sejumlah inovasi bahan bakar alternatif yang digarap kampus-kampus dalam negeri. Bahan bakunya? Minyak kelapa sawit atau CPO.

Menurut Rachmat, temuan-temuan ini bisa jadi pijakan awal yang bagus. Tujuannya jelas: mendukung hilirisasi sawit sekaligus mengakselerasi target B50 pada 2028 nanti.

"Ini langkah awal kita untuk melakukan hilirisasi sawit untuk bahan bakar," ujar Rachmat di ITS Surabaya, Selasa (14/4/2026).

Ia menambahkan, momentumnya tepat. Situasi geopolitik global yang memanas kerap menghambat distribusi minyak mentah. "Kita sekarang sedang dalam kondisi dunia yang kesulitan bahan bakar karena ada persoalan-persoalan logistik dan perang," jelasnya.

Karena itu, ia berharap inovasi berbahan non-fosil ini bisa dikembangkan lebih lanjut dengan pendampingan pemerintah.

Beberapa kampus sudah memulai. Rachmat menyebut sejumlah nama, seperti Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan tentu saja ITS Surabaya sebagai tuan rumah.

Yang menarik perhatiannya adalah inovasi dari ITS yang disebut "Benwit". Rachmat mengaku sempat terkejut dengan hasil eksperimen mereka.

"Ternyata, ini bisa langsung digunakan dengan kadar bensin sawit sampai 50%," katanya, masih takjub.

"Campuran [bensin sawit] 50% itu bisa langsung berguna untuk mesin [kendaraan bermotor yang menggunakan] bensin."

Namun begitu, ia mengakui bahwa saat ini inovasi tersebut masih dalam skala kecil. Itulah sebabnya pemerintah berkomitmen untuk mendampingi. Pendampingan ini diharapkan bisa mengarahkan produk inovasi agar lebih kompetitif dan akhirnya mendukung swasembada energi.

Di sisi lain, pemerintah juga punya skema lain. Mereka mendorong pembentukan National Technology Transfer Office (NTTO). Lembaga ini nantinya akan mengawasi proses hilirisasi dan komersialisasi inovasi agar lebih terarah.

Rachmat menegaskan, dukungan ini selaras dengan prioritas nasional dan visi Indonesia Emas 2045. "Program kerja diarahkan untuk mulai dari swasembada energi, pangan, hingga air," pungkasnya.

Jadi, meski masih awal, semuanya terlihat bergerak. Dari lab kampus, harapan akan bahan bakar alternatif yang mandiri mulai menemukan bentuknya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar