Namun begitu, kerja sama yang dibicarakan ternyata lebih luas dari sekadar minyak dan gas. Bahlil menyebutkan kemungkinan kolaborasi di bidang penyimpanan cadangan minyak mentah, pasokan jangka panjang, bahkan penjajakan di sektor energi nuklir dan mineral.
“Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional,” tegas Bahlil.
Di sisi lain, respons dari Rusia juga terlihat positif. Sergey Tsivilev menegaskan kesiapan negaranya sebagai mitra strategis. “Kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas, penyimpanan, maupun kelistrikan dalam hal ini pembangkit listrik tenaga nuklir,” jelasnya.
Langkah diplomasi ini jelas bukan tanpa alasan. Dengan kapasitas produksi energi Rusia yang sangat besar, kemitraan ini bisa menjadi opsi penting bagi Indonesia. Di tengah dinamika geopolitik yang serba tak pasti, mencari sumber energi alternatif adalah sebuah keharusan.
Bahlil sendiri tampak optimis. Dia merasa senang bisa menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo secara tuntas. “Insyaallah bisa kita mendapatkan yang baik,” pungkasnya. Upaya ini menegaskan bahwa Indonesia aktif mencari solusi untuk menjaga stabilitas ekonominya di panggung global.
Artikel Terkait
Israel dan Lebanon Sepakat Mulai Negosiasi Langsung, Mediasi AS
Dembele Bawa PSG Hancurkan Liverpool di Anfield, Lolos ke Semifinal Liga Champions
AS Fasilitasi Pertemuan Langka Israel-Lebanon, Agenda Masih Berbeda Jauh
PSG Hancurkan Liverpool 2-0, Lolos ke Semifinal Liga Champions dengan Agregat 4-0