Blokade AS di Selat Hormuz Picu Ketegangan Global, Sekutu Eropa Ambil Jarak

- Selasa, 14 April 2026 | 19:30 WIB
Blokade AS di Selat Hormuz Picu Ketegangan Global, Sekutu Eropa Ambil Jarak

Iran Bukan Venezuela

Perang sebulan lebih sebelumnya memberikan pelajaran mahal. AS dan Israel, ternyata, sempat kewalahan menghadapi Iran di medan tempur. Pasukan Iran jauh lebih tangguh dan cerdik dari perkiraan. Mereka berhasil meraih kemenangan politis, yang memaksa AS akhirnya setuju gencatan senjata dan duduk di meja perundingan.

Dari segi alat utama sistem persenjataan, sebenarnya AS jauh di atas. Mungkin itu yang membuat Trump meremehkan Iran. Bisa jadi dia menyamakannya dengan Venezuela, di mana pasukannya bisa menangkap presidennya tanpa perlawanan berarti. Dengan keyakinan serupa, perang dilancarkan pada 28 Februari.

Serangan awal AS sukses secara teknis. Mereka berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, dan Komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour.

Tapi Iran berbeda. AS berharap dengan gugurnya para pimpinan itu, rakyat Iran akan bangkit memberontak dan menggulingkan rezim. Yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat malah bersatu padu, murka, dan bertekad melawan AS-Israel. Iran lalu membalas dengan meluncurkan ribuan drone murah ke berbagai pangkalan militer AS di Teluk. Inilah titik baliknya. Seperti kisah David melawan Goliat, si kecil berhasil menemukan celah untuk melukai raksasa.

Strategi Iran cerdik: perang atrisi yang dikombinasikan dengan taktik asimetris. Mereka memaksa AS dan Israel terlibat dalam perang berlarut-larut yang menggerus ekonomi. Bayangkan, satu drone senyawa Rp 400 juta harus ditangkas dengan rudal penangkis seharga Rp 60 miliar. Hitungannya jelas tidak seimbang.

Di front lain, kelompok proksi Iran seperti Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman ikut bermain. Mereka mengacaukan lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Perangnya jadi multi-front, menguras tenaga dan kocek lawan. AS dan Israel mungkin punya senjata yang lebih canggih, tapi Iran punya kesabaran dan strategi yang ternyata efektif.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar