Ini bukan proyek pertama kalinya. Sebelumnya, di penghujung Desember 2025, PGE dan PLN IP juga sudah mencapai kesepakatan serupa untuk PLTP Ulubelu Bottoming Unit di Lampung, dengan kapasitas lebih besar, 30 MW. Proyek itu merupakan pengembangan dari PLTP Ulubelu yang kapasitas totalnya 220 MW.
Kedua proyek ini sebenarnya bagian dari skema yang lebih besar. Ini adalah wujud sinergi antara dua BUMN raksasa, Pertamina dan PLN, untuk mengembangkan lebih lanjut energi panas bumi di 19 lokasi proyek yang sudah berjalan.
Sebagai informasi, PGE adalah bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy Pertamina. Fokusnya ya di panas bumi: eksplorasi, eksploitasi, sampai produksi. Jangkauannya luas.
Kini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi. Kapasitas terpasangnya besar, mencapai 1.932 MW. Rinciannya, 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE, sementara 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Angka ini memberi gambaran betapa signifikannya peran mereka. Kapasitas terpasang dari wilayah kerja PGE menyumbang sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi nasional. Efeknya untuk lingkungan juga nyata, berpotensi mengurangi emisi CO2 hingga sekitar 10 juta ton per tahun. Sebuah kontribusi yang tidak main-main untuk target energi bersih Indonesia.
Artikel Terkait
Blokade AS di Selat Hormuz Picu Ketegangan Global, Sekutu Eropa Ambil Jarak
KPK Sita Enam Barang Milik Saksi Kasus Bea Cukai, Diduga Pemberian Tersangka
FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Berkembang Indonesia, Proyeksi ADB Optimistis
Menteri Haji Tegaskan Pemberangkatan Tetap Tepat Waktu, Biaya Avtur Ditanggung Negara