Jumat lalu (10/4), ada penandatanganan yang cukup penting di sektor energi. Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power sepakat soal tarif listrik dengan PT PLN untuk proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit. Kapasitasnya 15 MW dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.
Menurut Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, proyek ini akan memakai teknologi bottoming cycle. Intinya, teknologi ini memanfaatkan panas sisa dari pembangkit panas bumi yang sudah ada untuk menciptakan listrik tambahan. Cukar cerdas, bukan? Daripada terbuang percuma, sisa panas itu diolah lagi.
"Pemanfaatan teknologi bottoming memungkinkan potensi energi panas bumi yang masih tersedia dari operasi pembangkit eksisting dapat dimanfaatkan secara lebih optimal," jelas Yani dalam siaran pers yang diterima.
PLTP Lahendong sendiri bukan nama baru. Ia termasuk pionir di Indonesia Timur dan jadi pembangkit EBT terbesar di kawasan Sulawesi Utara dan Gorontalo. Saat ini, ada empat unit yang beroperasi dengan total daya mencapai 80 MW. Nah, proyek bottoming unit ini nantinya akan menambah lagi pasokan listrik dari lokasi yang sama.
Setelah urusan tarif ini beres, langkah selanjutnya bakal berjalan. Mulai dari pembentukan perusahaan patungan atau joint venture, pelaksanaan EPCC, hingga penyusunan perjanjian pembelian listrik (PPA). Rencananya sudah di depan mata.
Artikel Terkait
Blokade AS di Selat Hormuz Picu Ketegangan Global, Sekutu Eropa Ambil Jarak
KPK Sita Enam Barang Milik Saksi Kasus Bea Cukai, Diduga Pemberian Tersangka
FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Berkembang Indonesia, Proyeksi ADB Optimistis
Menteri Haji Tegaskan Pemberangkatan Tetap Tepat Waktu, Biaya Avtur Ditanggung Negara