Gencatan senjata itu hanya bertahan dua minggu. Setelah perundingan marathon selama 21 jam di Pakistan mentok, ancaman perang antara Iran, AS, dan Israel kembali menggantung. Pemicunya? Pengumuman blokade Selat Hormuz oleh Presiden AS Donald Trump. Langkah ini langsung diambil menyusul kegagalan diplomasi.
AS kini menutup akses keluar-masuk pelabuhan Iran di selat sempit itu. Bahkan, kapal-kapal perangnya dikerahkan untuk memburu setiap kapal yang ketahuan membayar "pajak" illegal kepada otoritas Teheran demi bisa melintas. Situasinya jadi sangat tegang.
Sebelumnya, saat gencatan senjata berlaku, Iran sempat membuka blokadenya sendiri. Tapi mereka memberlakukan pungutan satu dolar AS per barel muatan untuk setiap kapal yang lewat. Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), tindakan ini jelas melanggar hukum internasional. Di sisi lain, blokade dari pihak manapun entah Iran atau AS hanya akan membuat pasar minyak dunia kembali panik. Lonjakan harga sudah bisa ditebak.
Di perairan itu, kapal induk USS Abraham Lincoln dan armadanya sudah bersiaga. Posisinya tidak jauh, siap menegakkan blokade. Ini jelas mempersulit keadaan. Selat Hormuz adalah urat nadi perdagangan energi, dipadati kapal-kapal dari berbagai negara, termasuk China, Rusia, dan Korea Utara. Pertanyaannya, apakah Angkatan Laut AS berani menghentikan dan memeriksa kapal-kapal dari tiga negara itu? Konsekuensinya berat. Salah langkah sedikit, situasi bisa merembet ke mana-mana.
Iran pasti tidak akan tinggal diam. Apalagi mengingat ancaman Trump yang pernah berkoar akan "menghancurkan seluruh peradaban Iran". Mereka pasti sudah menyiapkan balasan.
Namun begitu, sekutu AS di Eropa justru mengambil jarak. Mereka menolak ikut serta dalam blokade. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sudah menyatakan penolakannya secara terbuka. Alih-alih mendukung blokade, Inggris dan Perancis malah mengusulkan alternatif lain: sebuah konferensi untuk membentuk misi multinasional.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan, misi ini bersifat defensif. Tugasnya mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi selat itu. Rencananya, sekitar 30 negara akan terlibat, termasuk negara-negara Teluk. Tapi, menurut Sekjen NATO Mark Rutte, misi baru bisa jalan jika 32 negara anggota NATO menyetujuinya. Prosesnya tidak akan instan.
Iran Bukan Venezuela
Perang sebulan lebih sebelumnya memberikan pelajaran mahal. AS dan Israel, ternyata, sempat kewalahan menghadapi Iran di medan tempur. Pasukan Iran jauh lebih tangguh dan cerdik dari perkiraan. Mereka berhasil meraih kemenangan politis, yang memaksa AS akhirnya setuju gencatan senjata dan duduk di meja perundingan.
Dari segi alat utama sistem persenjataan, sebenarnya AS jauh di atas. Mungkin itu yang membuat Trump meremehkan Iran. Bisa jadi dia menyamakannya dengan Venezuela, di mana pasukannya bisa menangkap presidennya tanpa perlawanan berarti. Dengan keyakinan serupa, perang dilancarkan pada 28 Februari.
Serangan awal AS sukses secara teknis. Mereka berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, dan Komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour.
Tapi Iran berbeda. AS berharap dengan gugurnya para pimpinan itu, rakyat Iran akan bangkit memberontak dan menggulingkan rezim. Yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat malah bersatu padu, murka, dan bertekad melawan AS-Israel. Iran lalu membalas dengan meluncurkan ribuan drone murah ke berbagai pangkalan militer AS di Teluk. Inilah titik baliknya. Seperti kisah David melawan Goliat, si kecil berhasil menemukan celah untuk melukai raksasa.
Strategi Iran cerdik: perang atrisi yang dikombinasikan dengan taktik asimetris. Mereka memaksa AS dan Israel terlibat dalam perang berlarut-larut yang menggerus ekonomi. Bayangkan, satu drone senyawa Rp 400 juta harus ditangkas dengan rudal penangkis seharga Rp 60 miliar. Hitungannya jelas tidak seimbang.
Di front lain, kelompok proksi Iran seperti Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman ikut bermain. Mereka mengacaukan lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Perangnya jadi multi-front, menguras tenaga dan kocek lawan. AS dan Israel mungkin punya senjata yang lebih canggih, tapi Iran punya kesabaran dan strategi yang ternyata efektif.
Artikel Terkait
Tim Produksi Film Dokumenter Pesta Babi Akhirnya Buka Suara Usai Dilaporkan Tokoh Adat Papua ke Polisi
Duel Declan Rice vs Vitinha di Final Liga Champions: Kunci Kemenangan Arsenal atau PSG di Lini Tengah
Banjir Manado: 747 Jiwa Mengungsi Akibat Luapan Saluran Air, Ratusan Rumah Terendam
Polisi Tangkap Pria Perampok Teman Kencan, Mobil Korban Berhasil Dikembalikan