Padahal, sebelumnya ada kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024. Namun, menurut laporan, Israel justru terus melancarkan serangan hampir setiap hari. Angkanya mengerikan: sejak saat itu, sedikitnya 2.055 orang tewas, termasuk anak-anak dan petugas medis. Ribuan lainnya terluka, dan sekitar 1,2 juta warga terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka.
Di sisi lain, prioritas kedua pihak tampak berbeda jauh. Pemerintah Lebanon bersikukuh bahwa gencatan senjata harus diutamakan. Sementara Israel, lewat pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Sabtu lalu, punya agenda lain.
Qassem menyindir rencana pertemuan itu sebagai “konsesi cuma-cuma” yang diberikan Lebanon kepada musuhnya. Penolakannya ini sejalan dengan gelombang protes di jalanan Beirut. Ratusan orang turun ke jalan pada Jumat dan Sabtu, menuduh Perdana Menteri Nawaf Salam mengkhianati rakyat karena bersedia berdialog sementara serangan Israel justru kian menjadi.
Di lapangan, situasinya pun panas. Militer Israel mengklaim telah mengepung kota strategis Bint Jbeil di selatan Lebanon pada hari Senin. Sementara itu, Hizbullah menyatakan mereka terus menggempur posisi-posisi pasukan Israel di wilayah yang sama.
Qassem menutup pidatonya dengan peringatan keras. Wilayah Israel utara, katanya, tidak akan pernah aman meski Israel masuk lebih dalam ke Lebanon. Ia juga menyayangkan sikap Beirut yang sempat menyebut aktivitas militer Hizbullah ilegal di awal perang, sebuah langkah yang dianggapnya sebagai pengkhianatan.
Jadi, jalan buntu. Diplomasi yang ditawarkan ditolak mentah-mentah, sementara di medan pertempuran, eskalasi terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda reda.
Artikel Terkait
Gus Kikin Serukan Jaminan Keamanan Saudi Arabia untuk Haji 2026
Kemlu Tegaskan Tak Ada Akses Bebas Ruang Udara untuk Pesawat Militer AS
Stylist Ungkap 5 Tips Padu-Padan Warna Hijab dan Outfit
Pria 77 Tahun Ditemukan Tewas Terlilit Jala di Sungai Ciliwung Bogor