Dukungan serupa disampaikan Uskup Agung George Leo Thomas dari Las Vegas. "Saya bersyukur kepada Tuhan karena mengirimkan Paus Leo XIV, yang bersedia menyuarakan kebenaran kepada kekuasaan pada saat kita sangat membutuhkannya."
Kecaman bahkan melintasi samudera. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyebut serangan Trump terhadap Paus sebagai hal yang "tidak dapat diterima".
"Saya menilai pernyataan Presiden Trump terhadap Bapa Suci tidak dapat diterima. Paus adalah pemimpin Gereja Katolik, dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian serta mengecam segala bentuk perang," tegas Meloni.
Bukan Cuma dari Lingkungan Agama
Kritik ternyata meluas. Tokoh-tokoh konservatif pun ikut angkat bicara. Brilyn Hollyhand, misalnya, menyebut unggahan itu sebagai "penistaan yang menjijikkan".
"Iman bukan alat. Anda tidak perlu menggambarkan diri sebagai penyelamat ketika rekam jejak Anda seharusnya berbicara sendiri," tulisnya.
Riley Gaines juga mempertanyakan. "Apakah dia benar-benar berpikir seperti ini? Bagaimanapun, dua hal benar: sedikit kerendahan hati akan bermanfaat, dan Tuhan tidak boleh dipermainkan."
Dari kubu oposisi, Senator Bernie Sanders tak kalah keras. Ia menyindir perilaku Trump sebagai "egomaniakal".
"Trump kini menyerang Paus karena berbicara menentang perang sambil memposting gambar dirinya sebagai figur mesianik," tulis Sanders. "Ini bukan hanya ofensif, tetapi juga perilaku yang tidak waras dan egomaniakal."
Dukungan yang Tak Pernah Luntur
Meski dikritik habis-habisan, posisi Trump di mata basis pemilihnya, khususnya kalangan Kristen dan Katolik, tetap kuat. Dukungan itu bahkan mengantarkannya pada kemenangan di pemilu 2024. Bagi banyak pendukung evangelis, selamatnya Trump dari percobaan pembunuhan Juli 2024 lalu dianggap sebagai tanda perlindungan ilahi.
Ini juga bukan pertama kalinya ia memicu kemarahan umat Katolik. Setelah wafatnya Paus Fransiskus dulu, Trump pernah membagikan gambar dirinya yang digambarkan sebagai Paus.
Menanggapi keributan terbaru ini, Uskup Robert Barron yang justru tergabung dalam komisi bentukan Trump menyatakan presiden sebaiknya minta maaf atas pernyataan "tidak pantas" itu. Meski begitu, dalam kesempatan sama, ia masih memuji pendekatan Trump terhadap komunitas Katolik. Sebuah posisi yang agak rumit, tapi cukup menggambarkan dinamika politik yang sedang berlangsung.
Artikel Terkait
Kemenhaj Beri Batas Akhir Distribusi Koper Jemaah Haji 17 April
Israel Siapkan Proposal Kehadiran Militer Jangka Panjang di Lebanon Selatan
Polisi Bongkar Pabrik Pil Jin Zenith di Semarang, Satu Oknum Diamankan
Trem Kota Tua Ditunda, Pemerintah Fokuskan Prioritas pada Penyelesaian MRT