Di sisi lain, Carlson mengaku masih menyukai Trump. Rasa kasihan justru yang muncul. Ia merasa sang presiden terjebak, tidak bisa membuat keputusan sendiri, dan terhimpit kekuatan dari luar.
Tanggapan Trump? Bisa ditebak. Sang presiden tak tinggal diam. Lewat unggahan di media sosial pada 9 April, ia mengejek Carlson dan kritikus pro-MAGA lainnya sebagai orang ber-IQ rendah yang cuma cari perhatian. Menurut Trump, pandangan mereka bertolak belakang dengan gerakan MAGA. Ia bahkan menyindir Carlson sebagai "pria yang hancur" setelah dipecat Fox News.
Perang dengan Iran sendiri memang jadi titik balik. Konflik yang pecah di tengah perundingan nuklir ini memicu gelombang penolakan, bahkan dari kalangan media yang biasanya mendukung Trump. Banyak yang mulai mempertanyakan, seberapa besar pengaruh lobi Zionis di Washington terhadap keputusan ini.
Carlson sendiri tak main-main. Ia menyebut ancaman Trump untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran di hari Minggu Paskah sebagai sebuah kejahatan. "Kejahatan perang dan kejahatan moral," katanya.
Tekanan bahkan datang dari dalam partai. Marjorie Taylor Greene, mantan anggota DPR dari Partai Republik, sampai menyerukan pencopotan Trump lewat Amandemen ke-25. Itu terjadi setelah presiden mengancam akan "memusnahkan sebuah peradaban" dalam postingannya tanggal 7 April.
Di lapangan, perang ini jelas tidak populer. Berbagai jajak pendapat menunjukkan publik AS menolak konflik ini. Biayanya sudah membengkak miliaran dolar. Tapi, tujuan strategisnya? Sampai sekarang, belum satu pun yang tercapai.
Semuanya berujung pada pertikaian publik yang tajam ini. Dua sekutu lama yang kini saling serang. Dan di tengahnya, ada sebuah perang yang konsekuensinya masih terus dirasakan.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Prihatin, 6 Kepala Daerah Ditangkap KPK Sejak Awal 2026
Survei Poltracking: 74,1% Publik Puas dengan Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran
Mendagri Imbau Daerah di Sumut Salurkan Dana Hibah ke Aceh yang Terdampak Bencana
AS Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan dengan Iran Gagal