Oleh: Sunarto
JEMBER Guncangan datang tiba-tiba bagi para pelaku usaha kecil di Jember. Harga wadah plastik melonjak nyaris separuh dalam hitungan waktu singkat, sebuah tekanan berat yang sumbernya ternyata berasal dari jauh: konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz yang mengacaukan distribusi petrokimia global.
Angkanya cukup mencengangkan. Gelas plastik biasa, yang dulu Rp9.000 untuk 50 buah, kini meroket ke Rp12.000. Lebih parah lagi, kotak styrofoam atau gabus sintetis melesat dari Rp26.000 menjadi Rp42.000 per bundel. Kenaikan drastis ini langsung terasa di kantong para pelaku UMKM yang masih sangat bergantung pada plastik.
Mereka benar-benar terjepit. Di satu sisi, biaya produksi membengkak. Di sisi lain, mengurangi pemakaian plastik nyaris mustahil bagi banyak jenis usaha. Plastik masih menjadi pilihan utama karena kepraktisannya.
“Sudah jadi kebutuhan pokok untuk jualan kami. Fleksibel, gitu,” keluh Siti Aisyah, seorang pedagang UMKM, Minggu lalu.
Menurutnya, kemasan yang bagus dan praktis itu faktor penentu. Tanpa itu, produk bisa dianggap kurang menarik dan berisiko tidak laku.
Artikel Terkait
Persija Gelar Workshop Fotografi ke-5 di Sela Laga Kandang
Korban Penyekatan Air Keras Tolak Kasusnya Diadili di Peradilan Militer
BMKG Pastikan Cahaya Misterius di Langit Malang adalah Sampah Antariksa
Hexindo Gelar RUPSLB Usai Mundurnya Dua Direktur Asal Jepang