Dalam video, terlihat pelaku menghampiri sopir yang sedang menyetir. Percakapan pun terjadi. Suara penumpang yang merekam terdengar bertanya-tanya.
"Kalau di Tanah Abang emang kaya gitu ya, diminta apa tuh. Tapi palak atau apa sih bang," tanya penumpang.
"Iya palak. Sehari Rp100.000 sih," jawab sang sopir dengan lugas.
Rupanya, ancaman juga kerap terjadi. Sopir itu bercerita jika menolak memberi uang, dia akan diteriaki sebagai maling. Bahkan, kekerasan fisik sudah menjadi hal yang biasa. Buktinya, kaca depan bajajnya sudah pecah diduga karena ulah para preman.
"Terus kalau nggak dikasih gimana Bang," tanya penumpang lagi.
"Diteriakin maling. Ini pada pecah nih (kaca depan bajaj)," sahut sopir.
Kejadian ini bukan yang pertama. Kawasan Tanah Abang seperti punya catatan kelam sendiri soal pungutan liar. Meski patroli bersama kerap digaungkan, tampaknya para pelaku masih mencari celah. Mereka bergerak di tengah keramaian, memanfaatkan kesibukan yang ada.
Kini, semua mata tertuju pada polisi. Mampukah mereka menangkap pelaku dan memberikan efek jera? Warga, terutama para sopir bajaj, tentu menunggu jawabannya.
Artikel Terkait
Angin Kencang Porak-Porandakan Peternakan Ayam di Pati, Kerugian Capai Miliaran
AHY Bagikan Sembako ke Jemaat Gereja, Dana dari Lelang Lukisan SBY
Pemerintah Tetapkan 16 Hari Libur Nasional dan 6 Cuti Bersama untuk Tahun 2026
Polisi Padang Tangkap Spesialis Bobol Rumah Usai Curi Ponsel Senilai Rp18 Juta