Keputusan Berisiko untuk Pulang
Rupanya, kerinduan dan tekadnya lebih besar. Di tahun 1983 itu, ia memutuskan kembali. Ambisinya jelas: mendorong rekonsiliasi dan stabilitas politik. Namanya kembali menggema sebagai calon presiden yang mungkin bisa mengakhiri era Marcos.
Di dalam pesawat yang membawanya ke Manila, Aquino sempat berbincang dengan para wartawan. Ia tampak sadar betul risiko yang menunggu.
Kata-kata itu seperti firasat. Begitu turun dari tangga pesawat, takdirnya pun terpenuhi. Kematiannya bukan akhir cerita. Justru menjadi percikan yang membakar perlawanan lebih besar, mengubah wajah Filipina selamanya.
Artikel Terkait
Bea Cukai Tanjung Perak Temukan Miras dan Sparepart Ilegal di Impor China
AJ Bramah Cetak 35 Poin dan Bawa Tim Yudha Juara di IBL All-Star 2026
Wali Kota Semarang Kunjungi dan Beri Bantuan kepada Korban Pembegalan di Jalan Halmahera
Menteri Agama Tekankan Kolaborasi dengan Ormas di Pembukaan Muktamar Mathlaul Anwar