"Kita sering bicara soal diplomasi. Pejabat kita bolak-balik ke luar negeri, bahkan Presiden melakukan kunjungan strategis. Itu bagus, memang penting. Tapi apa hasil konkretnya?" tanya Mufti lagi.
Pertanyaannya punya dasar yang spesifik. Dia menyoroti dua kapal tanker milik Pertamina yang hingga kini masih tertahan di sana. Mufti lalu membandingkan dengan langkah Malaysia yang dinilainya lebih gesit.
"Lihatlah Malaysia. Di tengah situasi yang memanas sekalipun, mereka berhasil membawa pulang kapal tankernya. Nah, sekarang Selat Hormuz dibuka. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai Indonesia dipandang tidak punya daya tawar di kancah internasional," ucapnya prihatin.
Jadi, dua minggu ke depan akan menjadi penanda. Apakah diplomasi Indonesia bisa berbicara lebih nyata daripada sekadar retorika, atau justru sebaliknya.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Desak Kasus Penyiraman Andrie Yunus Diadili di Peradilan Umum
Polda Metro Jaya Gelar Latihan Taktis Sispamkota untuk Antisipasi Gangguan Keamanan
Polisi Selidiki Dugaan TPPO di Balik Pernikahan Palsu dan Rencana Perjalanan ke Kamboja di Malang
Pemkab Purwakarta Perketat Izin Hajatan Pasca Ayah Tewas Dikeroyok di Pesta Anaknya