Di Kupang, NTT, Festival Pawai Paskah Pemuda GMIT baru saja berlangsung dengan meriah. Tapi bagi Dr. Roland E. Fanggidae, akademisi Undana, acara ini lebih dari sekadar perayaan iman. Ia melihat gelaran yang dibuka langsung oleh Wapres Gibran Rakabuming Raka itu punya dampak riil bagi perekonomian warga kecil.
“Setiap etape atau titik tertentu disiapkan ruang bagi UMKM untuk berjualan. Ini menarik karena masyarakat sebagai aktor ekonomi dapat merasakan langsung dampak festival,” ujar Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana itu, Selasa lalu.
Menurutnya, perubahan konsep pawai menjadi festival tahun ini adalah langkah cerdas. Tak cuma menampilkan arak-arakan mobil bertema Alkitab, nuansa hiburan dan pelibatan pelaku usaha lokal memberi warna baru. Hal ini sejalan dengan pesan Wapres Gibran yang mendorong NTT membangun identitas kuat di sektor pariwisata, khususnya wisata rohani.
“Labuan Bajo sudah dikenal dengan potensi maritimnya, sehingga daerah lain perlu menonjolkan keunikan masing-masing,” katanya menyitir pernyataan wapres.
Fanggidae lantas membeberkan fakta menarik. Rangkaian kegiatan Paskah di NTT, mulai dari Semana Santa di Larantuka hingga Pawai Kemenangan di Kupang, adalah yang terbesar di Indonesia. Potensi ini, katanya, bisa jadi model bagus. “Festival ini bisa jadi model bagi NTT untuk mengemas kegiatan kerohanian menjadi destinasi wisata rohani,” jelasnya.
Namun begitu, ia mengingatkan satu hal penting. Nilai kerohanian dan teologis harus tetap dijaga agar kegiatan tidak tergeser oleh komersialisasi. “Ketika dikemas sebagai wisata rohani, pesan-pesan agama harus tetap muncul dan menjadi kekuatan utama,” tegas Roland.
Untuk memaksimalkan potensinya, ia mendorong beberapa hal. Pertama, perlu ada kalender event tetap agar wisatawan bisa merencanakan kunjungan. Kedua, pemerintah daerah harus melakukan rebranding melalui kolaborasi dengan lembaga keagamaan dan swasta.
“Ketika orang datang, ekonomi akan mulai bergerak,” ujarnya menggambarkan efek berantainya. Dari penginapan, kuliner, sampai ekonomi kreatif untuk oleh-oleh, semuanya bisa terdongkrak.
Ia punya usulan konkret. Dua model yang ideal dikembangkan: community based tourism, dengan masyarakat lokal sebagai aktor utama, dan integrasi rantai pasok. Model terakhir ini intinya menghubungkan ritual keagamaan dengan paket wisata serta peningkatan produk lokal.
“Dengan dua model ini, ke depan diharapkan Festival Pawai Paskah tetap mempertahankan makna kerohanian, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi UMKM lokal,” pungkasnya. Sebuah harapan yang sederhana, tapi dampaknya bisa sangat luas bagi NTT.
Artikel Terkait
Bakti Sosial WALUBI di Candi Borobudur Layani Lebih dari 7.000 Pasien, Antrean Poli Gigi Dipadati Warga
RIIZE Pastikan Rilis Mini Album Kedua ‘II’ pada 15 Juni
Polres Jakarta Pusat Canangkan Program Pemilahan Sampah untuk Jadi Pelopor Lingkungan
Kementerian Haji Pastikan Infrastruktur Kesehatan di Armuzna Siap, 1.200 Tenaga Medis Dikerahkan