Langkah kontroversialnya itu, tentu saja, menuai reaksi keras. Roso Daras dalam buku ‘Total Bung Karno’ mencatat, lima mahasiswa kedokteran yang juga aktivis segera mendatanginya. Mereka protes setelah foto Bung Karno yang terkesan mendukung romusha tersebar luas.
“Nampaknya Bung Karno tidak dipercayai lagi oleh rakyat. Cara bagaimana Bung Karno bisa menjawab persoalan romusha?” tanya seorang mahasiswa membuka percakapan yang menegangkan.
Bung Karno pun menjawab. Saat itu, menurutnya, hanya ada dua jalan menuju Indonesia merdeka. Pertama, dengan tindakan revolusioner. Tapi kita belum siap. Jalan kedua? Bekerja sama dengan Jepang sambil mengonsolidasikan kekuatan, menunggu saat yang tepat.
“Saya mengikuti jalan kedua”, begitu kata Bung Karno.
Jawaban itu tak memuaskan. Seorang mahasiswa lain langsung menimpali, suaranya penuh tanya dan kepedihan.
“Tapi kenapa Bung Karno sampai hati memberikan rakyat kita kepada mereka?”
Pertanyaan itu, mungkin, menggantung di udara tanpa jawaban yang benar-benar memuaskan. Sebuah dilema yang menghantui seorang pemimpin di tengah tekanan penjajahan. Air mata dan penyesalan Bung Karno, seperti tertulis dalam biografi itu, adalah saksi bisu dari sebuah pilihan yang terpaksa diambil, dengan konsekuensi yang terlalu mahal: nyawa rakyatnya sendiri.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Kecam Serangan Israel di Lebanon Usai Gugurnya Tiga Prajurit TNI
Oscar Pensiun Dini Usai Didiagnosis Gangguan Jantung
Anggota DPR Kritik Penyelesaian Mediasi Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Unissula
Kejagung Tarik Kajari Karo dan Tim Jaksa Usai Vonis Bebas Amsal Sitepu