Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah, Analis Soroti Peluang Obligasi dan Saham Domestik

- Minggu, 05 April 2026 | 04:00 WIB
Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah, Analis Soroti Peluang Obligasi dan Saham Domestik

Jakarta. Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Menurut Steven Satya Yudha, Direktur Ashmore Asset Management, situasi ini jadi sentimen yang benar-benar menekan pasar keuangan global. Indonesia pun tak luput dari imbasnya, dengan tekanan terasa jelas pada nilai tukar Rupiah.

Ketidakpastiannya tinggi, terutama soal harga minyak mentah dunia yang berpotensi melambung. Ancaman inflasi itu mendorong para investor berlindung. Dana-dana pun mengalir deras ke instrumen safe haven, mencari tempat yang aman dari gejolak.

Tapi, jangan buru-buru pesimis. Steven punya pandangan lain. Di tengah awan gelap ini, dia justru melihat prospek menarik di pasar domestik. Obligasi pemerintah tenor 10 tahun, misalnya, yang menawarkan imbal hasil sekitar 6,85%. Valuasinya terlihat lebih menarik dibandingkan dengan surat utang Amerika Serikat.

Begitu pula di pasar saham. "Saham-saham blue chip saat ini sudah memiliki Price to Earnings Ratio (P/E Ratio) yang sangat murah," ujarnya.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar