Menteri Iran Peringatkan Dampak Radioaktif Serangan ke PLTN Bushehr Ancam Ibu Kota Negara Teluk

- Minggu, 05 April 2026 | 16:15 WIB
Menteri Iran Peringatkan Dampak Radioaktif Serangan ke PLTN Bushehr Ancam Ibu Kota Negara Teluk

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, punya peringatan keras. Di platform X pada Sabtu (4/4), dia menyebut dampak radioaktif dari serangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr justru akan menghancurkan kehidupan di ibu kota negara-negara Teluk Persia. Bukan di Teheran.

"Ingat kemarahan Barat soal permusuhan di dekat PLTN Zaporizhzhia di Ukraina?" tulisnya.

Lalu dia melanjutkan, "Israel dan AS telah mengebom pembangkit Bushehr kami empat kali. Dampak radiasi akan mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan Teheran."

Pernyataan itu muncul setelah Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) melaporkan serangan terhadap lokasi PLTN Bushehr hari itu juga. Menurut mereka, serangan yang didalangi AS dan Israel itu menewaskan seorang karyawan.

Ini bukan kali pertama. Sebelumnya, AEOI sudah melaporkan tiga serangan terpisah di PLTN Bushehr sepanjang Maret: tanggal 17, 24, dan 27. Serangan-serangan lain juga terjadi di tempat lain. Fasilitas nuklir Natanz diserang dua kali pada 1 dan 21 Maret. Lalu, ada lagi serangan terhadap pabrik air berat di Khondab tanggal 27 Maret, serta fasilitas produksi konsentrat uranium di Ardakan.

Iran secara tegas menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik semua aksi ini.

Memang, ketegangan sudah memanas sejak akhir Februari lalu. Saat itu, AS dan Israel disebut melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Iran, termasuk Teheran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil. Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Situasinya makin rumit, dan ancaman dampak radiologi dari Bushehr itu jadi gambaran betapa berbahayanya eskalasi ini.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar