Data Kekerasan Gender 2025 Capai Rekor Tertinggi, Film “Suamiku Lukaku” Angkat Realitas KDRT di Balik Citra Harmonis

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:15 WIB
Data Kekerasan Gender 2025 Capai Rekor Tertinggi, Film “Suamiku Lukaku” Angkat Realitas KDRT di Balik Citra Harmonis

Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2026 mengungkap fakta mencengangkan: sebanyak 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan terjadi sepanjang tahun 2025. Angka ini tidak hanya menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, tetapi juga mencatat peningkatan signifikan sebesar 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari seluruh kasus yang tercatat di ranah personal, mayoritas atau 83,70 persen merupakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bentuk kekerasan terhadap istri menjadi laporan yang paling dominan. Komnas Perempuan bahkan menerima rata-rata 19 pengaduan setiap harinya, sebuah indikasi bahwa persoalan ini masih menjadi darurat sosial yang belum tertangani secara optimal.

Di tengah situasi yang memprihatinkan tersebut, hadir sebuah karya sinema yang mengangkat isi serupa. Film berjudul “Suamiku Lukaku” telah tayang di bioskop sejak 27 Mei 2026. Kisahnya berfokus pada perjalanan seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari suaminya sosok yang justru dihormati dan disegani publik.

Realitas yang dihadirkan dalam film ini dinilai sangat dekat dengan keseharian banyak korban di masyarakat. Pelaku kerap memiliki citra baik di luar rumah, sehingga korban merasa takut untuk bersuara. Kekhawatiran tidak dipercaya atau justru disalahkan menjadi tembok besar yang menghalangi langkah mereka keluar dari lingkaran kekerasan.

Film yang dibintangi Acha Septriasa, Baim Wong, dan Raline Shah ini mengisahkan perjalanan Amina, seorang ibu yang hidup dalam tekanan dan kekerasan dari suaminya, Irfan. Di mata publik, Irfan dikenal sebagai pribadi yang baik dan religius. Namun, di balik pintu rumah, Amina harus bertahan menghadapi kekerasan demi melindungi putri mereka, Nadia.

Lebih dari sekadar drama rumah tangga, “Suamiku Lukaku” menyoroti kompleksitas yang jarang dipahami publik. Korban KDRT sering kali terjebak dalam siklus hubungan yang tidak sehat, trauma bonding, tekanan sosial, hingga ketergantungan ekonomi. Semua faktor ini membuat mereka sulit meninggalkan pelaku, meskipun secara logika sederhana pertanyaan “kenapa tidak pergi saja?” kerap muncul di ruang publik.

Sementara itu, dampak KDRT tidak berhenti pada korban langsung. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mencatat bahwa satu dari dua anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak laki-laki yang tumbuh dalam lingkungan abusive berpotensi mengulang pola kekerasan serupa di masa depan.

Lewat “Suamiku Lukaku”, publik diajak untuk melihat bahwa kekerasan rumah tangga sering tersembunyi di balik citra harmonis dan status sosial keluarga. Film ini menjadi pengingat bahwa korban membutuhkan dukungan, keberanian untuk didengar, dan lingkungan yang tidak menghakimi.

Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan kasus kekerasan, dapat menghubungi layanan SAPA 129, Kepolisian di nomor 110, maupun UPTD PPA di wilayah masing-masing.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar