Gudang Bulog di Makassar ramai oleh aktivitas. Di tengah keriuhan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan kabar yang dinanti banyak orang. Penyaluran beras SPHP dalam kemasan 2 kilogram, katanya, tinggal menunggu tanda tangannya saja.
"Segera, saya yang tanda tangan," tegas Amran kepada para wartawan, Minggu lalu.
"Kalau hari ini selesai, ya hari ini juga saya tanda tangani. Apa saja untuk rakyat, perintah presiden ya layani."
Ini jadi langkah lanjutan pemerintah. Rupanya, banyak permintaan dari masyarakat yang menginginkan ukuran lebih kecil dan tentu saja, lebih praktis. Kemasan 5 kilogram dinilai terlalu besar untuk sebagian keluarga. Nah, kemasan 2 kg ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan itu.
Harga Tak Berubah, Tetap Terjangkau
Yang penting, harganya nggak naik. Pemerintah tetap mematok harga Rp12.000 per kilogramnya. Artinya, satu paket beras 2 kilogram itu akan dijual sekitar Rp24.000. Cukup murah, kalau dibandingkan dengan harga beras komersial di pasaran yang sekarang rata-rata di atas Rp14.000 per kilo.
"Kalau rakyat yang butuh, kita bertindak untuk rakyat," ucap Amran lagi.
Distribusi Langsung Menyusul
Begitu persetujuan resmi keluar, proses penyaluran akan langsung digeber. Perum Bulog sudah siap menyalurkan ke berbagai titik yang ditentukan.
"Dalam waktu dekat, segera," janjinya. "Begitu tanda tangan saya turun, Bulog langsung mendistribusikan."
Jadi, tunggu saja kabar selanjutnya. Proses administrasi disebutkan sudah di tahap akhir.
Jawaban untuk Keluarga Kecil dan Lansia
Kebijakan kemasan kecil ini bukan tanpa alasan. Banyak warga, terutama keluarga kecil, lansia, atau mereka yang ekonominya terbatas, mengeluh kemasan 5 kg kurang cocok. Terlalu besar untuk konsumsi harian, akhirnya harus keluar uang banyak sekaligus. Dengan ukuran 2 kg, mereka bisa beli sesuai kebutuhan tanpa harus bingung menyimpan sisa beras terlalu lama.
Stabilitas Harga Jadi Prioritas
Di sisi lain, program SPHP ini sebenarnya adalah salah satu cara pemerintah menjaga stabilitas. Tujuannya jelas: mengamankan pasokan dan harga beras di pasar. Sekaligus, tentu saja, melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah. Dengan format kemasan yang lebih fleksibel, bantuan pangan diharapkan bisa lebih merata dan tepat sasaran.
Pada akhirnya, kehadiran beras kemasan 2 kilogram ini diharapkan jadi solusi praktis. Di tengah gejolak harga, adanya pilihan beras terjangkau dengan ukuran yang pas bisa sedikit meringankan beban. Harganya tetap, distribusinya segera. Tinggal kita lihat, seberapa cepat realisasinya di lapangan.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok